I. Pengertian Ilmu
Fiqih
Firman Allah dalam QS At Taubah [9] : 123;
Maka apakah tidak lebih baik dari tiap-tiap
kelompok segolongan manusia untuk ber tafaqquh (memahami fiqih) dalam
urusan agama dan untuk memberi peringatan kaumnya bila mereka kembali;
mudah-mudahan kaumnya dapat berhati-hati (menjaga batas perintah dan larangan
Allah).
Hadits Nabi :
Barangsiapa dikehendaki oleh Allah akan
diberikannya kebajikan dan keutamaan, niscaya diberikan kepadanya ke-faqih-an
(memahami fiqih) dalam urusan agama. (HR. Bukhari-Muslim).
Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum
Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah,
mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili).
Produk ilmu fiqih adalah fiqih. Sedangkan
kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya dipelajari dalam
ilmu Ushul Fiqih.
II. Perkembangan Ilmu Fiqih
A. Masa Nabi
Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang
makshum (terpelihara dari dosa dan kesalahan). Beliau menerima wahyu dari Allah
serta semua perbuatan, ucapan, taqrir dan himmahnya adalah kebenaran yang
menjadi hukum dan diikuti oleh umatnya.
Dalam masa Nabi wahyu Al-Quran masih terus
turun susul-menyusul. Wahyu yang turun kadang-kadang merupakan jawaban atau
solusi masalah yang sedang terjadi pada diri Nabi dan para sahabatnya.
Dalam urusan duniawi, peperangan, siasat
politik, muamalah dan yang semacamnya kadang Nabi juga bermusyawarah dengan
para sahabat, terkadang juga Nabi menerima usulan dan masukan dari para
sahabat, bahkan kadang Nabi meninggalkan pendapatnya sendiri.
Pada peristiwa perang Badar, Rasulullah
memerintahkan pasukan Islam untuk mengambil posisi di suatu tempat, tetapi
perintah Nabi itu disanggah oleh salah seorang sahabat yang mengusulkan agar
pasukan kaum Muslimin mengambil posisi didepan sumber mata air dan ternnyata
usulan itu diterima dan dilaksanakan oleh Nabi.
Beberapa penduduk Madinah ada yang berusaha
mengawinkan pohon kurma untuk memperoleh buah yang lebih banyak. Melihat itu
Nabi melarang mereka mengawinkan serbuk sari pohon kurma, maka penduduk Madinah
mentaati larangan Rasulullah tersebut. Ternyata pada tahun itu pohon-pohon
kurma tidak menghasilkan buah. Lalu Nabi mengijinkan lagi mengawinkan serbuk
sari pohon kurma, seraya bersabda
Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.
Pada waktu perang Khaibar para sahabat
menyalakan api dibawah periuk. Melihat itu kemudian Nabi bertanya : Apa yang
sedang kalian masak dalam periuk itu ? Sahabat menjawab : Daging keledai jinak.
Nabi kemudian berkata : Buang isi perikuk itu dan pecahkan periuknya. Salah
seorang sahabat berdiri dan berkata : Bagaimana kalau kami membuang isinya dan
kami mencuci periuknya ? Nabi menjawab : Seperti itupun boleh.
Jadi dalam hal-hal yang bukan merupakan
esensi pokok-pokok syariat agama, keputusan Nabi tidaklah otoriter, masih
mempertimbangkan musyawarah dan kemaslahatan.
Para sahabat Nabi terkadang juga melakukan
perbuatan ijtihad pribadi maka tindakan mereka itu ada yang disetujui Nabi,
disalahkan kemudian Nabi memberitahukan yang benar atau Nabi memberi komentar
terhadap ijtihad para sahabatnya. Terkadang diantara para sahabat Nabi terjadi
perbedaan pendapat mengenai suatu masalah, maka merekapun datang kepada Nabi
dan menanyakan masalah tersebut maka Nabi memberitahukan hukumnya. Contohnya
adalah sebagai berikut :
- Dalam perang Zatu al Salasil (perang musim dingin) Amr bin Ash mengalami mimpi junub. Akan tetapi Amr bin Ash takut mandi karena hawanya sangat dingin, kemudian ia hanya ber tayamum dan melakukan shalat subuh. Disaat ijtihad Amr bin Ash itu sampai kepada Nabi, maka beliau bertanya kepada Amr bin Ash : (Benarkah) kamu shalat bersama sahabat kamu,sedangkan kamu berada dalam keadaan junub ? maka Amr bin Ash menjawab : Aku mendengar Allah berfirman :
Dan janganlah kamu membunuh dirimu,
sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada dirimu. (QS
An-Nisa : 29)
Mendengar jawaban itu Nabi hanya tersenyum
dan tidak memberi komentar apa-apa. Hal itu merupakan taqrir beliau yang
menunjukkan persetujuannya.
- Dalam suatu perjalanan, Umar bin Khattab dan Ammar bin Yasir sama-sama dalam keadaan junub. Pada saat itu mereka tidak mendapatkan air untuk mandi besar, sementara waktu shalat telah tiba. Ammar ber-ijtihad dengan meng qiyas kan air dengan debu, maka Ammar berguling-guling diatas tanah. Sementara Umar bin Khattab tidak ber tayamum yang menurutnya hanya menghilangkan hadas kecil dan memilih untuk menunda shalat.
Maka tatkala keduanya melaporkan apa yang
mereka lakukan, Nabi menyatakan bahwa kedua ijtihad itu keliru. Nabi mengatakan
bahwa yang benar adalah mereka cukup dengan tayamum biasa tanpa harus
berguling-guling ke tanah dan tayamum itu juga bisa menghilangkan hadas besar
dalam keadaan darurat.
- Bani Quraidhah adalah orang-orang Yahudi penduduk Madinah yang terikat perjanjian persekutuan dengan kaum Muslimin untuk saling membantu bila Madinah diserang musuh. Pada saat perang Ahzab (Khondaq), Yahudi Bani Quraidhah melakukan pengkhianatan berusaha membantu musuh yang mengepung kota Madinah. Setelah kaum pengepung diporak-porandakan oleh badai gurun yang dahsyat dan peperangan pun selesai, Allah memerintahkan Nabi mengepung Bani Quraidhah. Untuk itu nabi bersabda : Jangan ada diantara kalian yang melakukan shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah. Sekelompok sahabat Nabi memahami sabda Nabi tersebut berdasarkan mantuq (makna lahirnya) maka mereka bergegas pergi dan bahkan menunda shalat ashar. Sebagian sahabat yang lain memahami sabda Nabi diatas berdasarkan mafhum (makna tersirat) yaitu boleh melakukan shalat Ashar tepat waktu, baru setelah itu harus segera bergegas menuju ke perkampungan Bani Quraidhah. Ternyata Nabi membenarkan kedua pemahaman tersebut.
Jadi pada masa Nabi semua masalah dan
perbedaan pendapat dapat diketahui hukumnya yang seharusnya berdasarkan
keputusan akhir dari Nabi yang masih ada ditengah-tengah para sahabat.
B. Masa Khulafaur Rasyidin
Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah
yang belum diketahui status hukumnya, maka beliau mengumpulkan fukaha dari
kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi
tentang masalah tersebut. Bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah
Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut, tetapi bila tidak
ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan
berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat.
Khalifah Umar pun mengikuti cara yang
dilakukan oleh Abu Bakar. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan
Umar, para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Madinah, maka
kesepakatan para sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar ini menjadi Ijma
yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum
muslimin.
Pada masa Khalifah Usman bin Affan sebagian
sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah dengan tujuan
mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin.
Pada masing-masing kota yang didiami, para sahabat besar mengajarkan agama
sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar
menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabiin dan tabiit-tabiin.
Pada masa Khalifah Ali bin Abu Thalib bahkan
beliau memindahkan pusat pemerintahannya dari Madinah ke Kufah. Pada masa
pemerintahan Ali pula mulai terjadi perang pertumpahan darah diantara sesama
kaum Muslimin, yaitu perang Jamal, perang Shiffin dan perang Nahrawand.
Jumhur ulama berpendapat bahwa kebijaksanaan
dan keputusan hukum Khulafaur Rasyidin dapat dijadikan hujjah, berdasarkan
Hadits Nabi :
Ikutilah jejak dua orang sepeninggalku,
(yaitu)Abu Bakar dan Umar. (HR Tirmidzi, Thabarani, Hakim)
Maka bahwasanya siapa yang hidup (lama)
diantara kamu niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu
pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi hidayah.
(HR. Abu Dawud).
Disamping empat orang Khulafaur Rasyidin,
para fuqaha sahabat besar juga ada yang dikenal sebagai mufti dan memberi fatwa
hukum. Perkataan sahabat (qaul sahabi) yang tidak disandarkan berasal dari Nabi
disebut hadits mauquf.
Sahabat Nabi adalah generasi Islam yang
terbaik. Mereka diridhoi oleh Allah pada beberapa ayat Al-Quran dan diridhoi
oleh Nabi dalam beberapa hadits.
Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 :
Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama
(masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha
kepada Allah.
Hadits Nabi :
Saya adalah kepercayaan sahabatku, sedang
sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku.
Para Sahabat itu para murid yang ditarbiyah
(dididik) langsung oleh Nabi. Mereka mengetahui latar belakang turunnya ayat
Al-Quran (asbabun nuzul), mengetahui latar belakang timbulnya hadits (asbabul
wurud), terbukti jihadnya, lebih bersih hatinya, lurus manhajnya dan paling
besar jasanya kepada Islam. Maka pendapat sahabat itu sangat layak untuk
dijadikan rujukan dan diikuti.
Diantara Fukaha (ahli Fiqih) Sahabat besar
selain empat orang Khulafaur Rasyidin yang dikenal banyak memberi fatwa adalah
:
- Abdullah Ibnu Abbas, mengembangkan perguruannya di Mekkah.
- Abdullah Ibnu Masud, mengembangkan perguruannya di Kufah.
- Abdullah Ibnu Umar, mengembangkan perguruannya di Madinah.
- Abdullah bin Amr bin Ash, mengembangkan perguruannya di Mesir.
- Muadz bin Jabal, mengembangkan perguruannya di Damaskus (Syria).
- Zaid bin Tsabit, mengembangkan perguruannya di Madinah.
- Aisyah, Ummul Mukminin
- Abu Hurairah, sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi.
- Abu Darda, mengembangkan perguruannya di Basrah.
10. Abu Musa Al-Asyari, mengembangkan
perguruannya di Basrah.
11. Ubay bin Kaab, pernah menjadi Hakim
Khalifah Umar di Basrah.
Karakteristik Ijtihad masa Sahabat :
1. Dengan musyawarah diantara ahlul hal wal
aqd, yaitu para Khalifah (penguasa) dan para fuqaha (ahli fiqih) sahabat besar.
2. Patuh dan tidak menyelisihi keputusan
Amir.
3. Tidak berfatwa untuk sesuatu yang belum
terjadi.
Atsar dari Masruq yang bertanya kepada Ubay
bin Kaab tentang sesuatu hal, maka Ubay bin Kaab menjawab :
Apakah hal itu telah terjadi ? Aku menjawab :
Belum. Ia mengatakan : Kita tangguhkan (tunggu) sampai hal itu terjadi. Apabila
hal itu telah terjadi, kami akan berijtihad untuk kamu dengan pendapat kami.
4. Toleran
Ath-Thabari meriwayatkan atsar bahwa Umar bin
Khattab bertemu dengan seorang laki-laki yang sedang mempunyai kasus, lalu Umar
bertanya padanya : Apa yang engkau perbuat ? Orang itu menjawab : Aku dihukumi
demikian, oleh Ali dan Zaid. Umar berkata : Kalau aku, tentu aku akan
menghukumi demikian. Lelaki itu berkata : Apa yang menghalangimu, sedangkan
urusan itu ada padamu ? Umar menjawab : Kalau aku mengembalikanmu kepada
Kitabullah dan Sunnah, tentu aku lakukan. Tetapi aku mengembalikanmu pada rayu
(ijtihad akal), sedangkan rayu itu musytarak (lebih dari satu pendapat) dan aku
tidak tahu pendapat mana yang benar menurut Allah. Maka tidak kurang nilainya
apa yang dikatakan oleh Ali dan Zaid.
5. Menjauhi pembahasan ayat-ayat Mutasyabih.
Khalifah Umar bin Khatab pernah mencambuk orang yang suka membahas ayat-ayat
mutasyabih.
C.
Masa Tabiin
Para tabiin adalah murid-murid langsung dari
para sahabat Nabi. Pada masa tabiin mereka melakukan dua peranan penting, yaitu
:
1. Mengumpulkan riwayat hadits dan fatwa
sahabat.
2. Ber ijtihad untuk masalah-masalah yang
belum diketahui pendapat dari sahabat.
Para tabiin di tiap-tiap kota mengembangkan
ijtihadnya berdasarkan pengajaran dan methode guru mereka masing-masing dari
kalangan sahabat Nabi.
Mufti dan Fuqaha di Madinah
- Said bin Al Musayyab
- Urwah bin Zubair
- Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq
- Kharijah bin Zaid bin Tsabit
- Abu Bakar bin Abdurrahman
- Sulaiman bin Yasar
- Ubaidillah bin Abdullah
Mufti dan Fuqaha di Mekkah :
- Atha bin Abi Rabah
- Thawus bin Kisan
- Mujahid bin Jabar
- Ubaid bin Umar
- Amru bin Dinar
- Ikrimah maula Ibnu Abbas
Mufti dan Fuqaha di Basrah :
- Amru bin Salamah
- Abu Maryam al-Hanafy
- Kaab bin Sud
- Hasan Al Basri
- Muhammad bin Sirin
- Muslim bin Yasar
Mufti dan Fuqaha di Kufah :
- Alqamah bin Qais An-Nakhaiy
- Masruq bin Al Ajda; Al Hamdany
- Syuraih al Qadhy
- Abdullah bin Utbah bin Masud al-Qadly.
- Rabi bin Khutsam.
Mufti dan Fuqaha di Mesir :
- Yazid bin Abi Habib
- Bakir bin Abdillah
- Amru bin Al-Harits
Mufti dan Fuqaha di Yaman :
- Mutharrif bin Mazin al-Qadly.
- Abdul Raziq bin Hamman
- Hisyam bin Yusuf
- Muhammad bin Tsur
- Samak bin Al-Fadhl
Mufti dan Fuqaha di Baghdad :
- Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam
- Abu Tsur Ibrahim bin Khalid al Kalby
Mufti dan Fuqaha di Andalusia :
- Yahya bin Yahya
- Abdul Malik bin Habib
- Baqi bin Makhlad
- Qasim bin Muhammad
- Maslamah bin Abdul Aziz Al Qadly
Fuqaha Tujuh (Fuqaha al-sabah)
Mereka adalah para tabiin yang dikenal
sebagai imam ahli Fiqih (Fuqaha), yaitu :
- Said bin Al-Musayyab (15 93 H), menantu sahabat Nabi Abu Hurairah. Ahli hadits, paling mengetahui keputusan hukum Abu Bakar dan Umar, guru Ibnu Syihab Az Zuhry.
- Urwah bin Zubair (wafar 94 H), keponakan Aisyah Ummul Mukminin.
- Abu Bakar bin Ubaid bin Al Harits bin Hisyam Al Makzumi (wafat 94 H).
- Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq (wafat 94 H).
- Ubaidillah bin Utbah bin Abdullah bin Masud (wafat 99 H), guru Umar bin Abdul Azis.
- Sulaiman bin Yasar (34-100 H), meriwayatkan hadits dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar, Abu Hurairah, Aisyah, Maimunah dan Ummu Salamah.
- Kharijah bin Zaid bin Tsabit, ahli fiqih dan menguasai ilmu faraidh (warisan).
D.
Masa Tabit Tabiin dan Imam Mazhab.
Mufti dan Fuqaha di Mekkah :
Di mekkah terdapat Muslim bin Khalid Al
Zanji, Said bin Salim Al-Qadah, Abdullah bin Zubair al Humaidy, Musa bin Abi
Jarud dan Muhammad bin Idris Asy Syafii.
Mufti dan Fuqaha di Madinah :
Ibnu Sihab Az Zuhri, Abdurrahman bin Hurmuz, Malik
bin Anas.
Mufti dan Fuqaha di Basrah :
Abdul Wahab bin Majid Ats Tsaqafy, Said bin
abi Arubah, Hammad bin Salamah, Mamar bin Rasyid.
Mufti dan Fuqaha di Kufah :
Ibnu Abi Layla, Abdullah bin Syubramah,
Syarikh Al Qadly, Sufyan Tsauri, Muhammad Al Hasan Asy Syaibany, Abu Yusuf Al
Qadly, Abu Hanifah
Mufti dan Fuqaha di Baghdad :
Abu Tsur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi.
Mufti dan Fuqaha di Syam
Yahya bin Hamzah Al Qadly, Amru Abdurrahman
bin Amru Al Auzay, Abu Ishaq Al Farazy Ibnu Mubarak.
Mufti dan Fuqaha di Mesir :
Abdullah bin Wahbin, Al Muzny, Ibnu Abdul
hakam, Muhammad bin Idris Asy Syafii.
Imam Abu Hanifah (80-150 H)
Nama lengkapnya adalah Imam Abu Hanifah Numan
bin Tsabit, lahir tahun 80 H di kota Kufah pada masa pemerintahan dinasti Bani
Umayyah. Beliau lebih populer dipanggil Abu Hanifah. Kakeknya seorang Persia
beragama Majusi. Hanifah dalam bahasa Iraq berarti tinta. Ini karena beliau
banyak menulis dan memberi fatwa.
Abu Hanifah pada mulanya adalah seorang
pedagang yang sering pulang-pergi ke pasar. Hingga suatu ketika beliau bertemu
dengan Syabi yang melihat bakat kecerdasan Abu Hanifah dan menyarankannya agar
banyak menemui ulama mempelajari agama. Nasehat Syabi berkesan di hati Abu
Hanifah, kemudian beliaupun banyak berguru kepada para ulama.
Imam Abu Hanifah mendapatkan hadits dari Atha
bin Abi Rabah, Abu Ishaq As SyubaI, Muhib bin Disar, Haitam bin Hubaib Al
Sarraf, Muhammad bin Mukandar, Nafi Maula Abdullah bin Umar, Hisyam bin urwah
dan Samak bin Harb. Beliau mempelajari Fiqih dari Hammad bin Sulaiman,
mempelajari qiraat dari Imam Ashim (salah satu qurra tujuh). Beliau seorang
hafidz (hafal Al-Quran), pada bulan Ramadhan mengkhatamkan Al-Quran 60 kali.
Imam Syafii berkata : Semua kaum muslimin
berhutang budi pada Abu Hanifah, Imam Abu Hanifah itu bapak dan para ahli Fiqih
itu anak-anaknya.
Imam Malik berkata : Subhanallah, saya tidak
pernah melihat orang seperti dia, andaikan dia mengatakan bahwa tiang ini
terbuat dari emas, tentu ia akan dapat membuktikannya melalui Qiyasnya.
Mengenai metode Ijtihadnya, Imam Abu Hanifah
pernah berkata : Saya mengambil Kitabullah (Al-Quran) jika saya mendapatkannya.
Hal yang tidak saya jumpai dalam Al-Quran akan saya ambil dari Sunnayh
Rasulullah SAW, dari riwayat yang shahih dan populer dikalangan orang-orang
kepercayaan. Jika saya tidak mendapatkannya dalam Al-Quran dan Sunnah, saya
akan mengambil fatwa para sahabatnya sesuka saya dan membiarkan yang lain.
Setelah itu saya tidak akan keluar dalam fatwa selain mereka. Jika telah sampai
kepada Ibrahim, Syabi, Ibnu Sirin, Ibnu Musayyab dan lainnya, maka saya
ber-ijtihad sebagaimana mereka juga ber-ijtihad.
Fudail bin Iyadh mengatakan : Jika ada
masalah didasarkan pada hadits yang shahih sampai kepada Abu Hanifah, pasti dia
akan mengikutinya. Begitu juga dari sahabat dan tabiin. Kalau tidak, dia akan
menggunakan qiyas dengan cara yang sangat baik.
Al-Dabussi dalam kitab Tasis al-Nazhar
menyebutkan : Abu Hanifah suka pada kebebasan berpikir. Ia seringkali
memberikan kepada sahabat dan murid-muridnya untuk mengajukan
keberatan-kebaratan atas ijtihadnya. Imam Abu Hanifah dalam mempelajari suatu
masalah menukik dalam sampai ke akar permasalahan. Beliau memahami inti hakikat
(lubb al-haqaiq), memahami isi dan misi yang terdapat dibelakang nash-nash itu
dalam bentuk illat-illat dan hukum-hukum.
Imam Abu Hanifah berkata : Perumpamaan orang
yang mempelajari hadits, sedangkan ia tidak memahami, sama halnya dengan
apoteker yang mengumpulkan obat, sementara ia tak tahu persis untuk apa obat
itu digunakan, akhrinya dokter datang.demikianlah kedudukan penuntut hadits
yang tidak mengenal wajah haditsnya, sehingga hadirnya fiqih.
Imam Abu hanifah dikenal teguh hati dan kokoh
dalam pendirian. Beliau pernah mengalami dua kali masa ujian. Pertama pada masa
pemerintahan Marwan bin Muhammad (Khalifah terakhir Bani Umayyah), Ibnu
Hubairah (gubernur Iraq) menunjuk Imam Abu Hanifah menjadi qadly, namun
pengangkatan itu ditolak oleh Imam Abu Hanifah. Maka Imam Abu Hanifah dipukul
sampai empat belas kali sebagai hukuman karena dianggap tidak mendukung
pemerintahan Bani Umayyah.
Ujian kedua dialami pada masa pemerintahan
Abu Jafar Al Manshur dinasti Abbasyah. Kasusnya hampir sama, karena Imam Abu
Hanifah menolak diangkat menjadi Qadly oleh Khalifah Al Manshur. Beliau
dipenjara dan disiksa dalam penjara.
Beliau juga dicurigai mendukung gerakan kaum
Alawiyin yang dituduh berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas.
Akhirnya Imam Abu Hanifah meninggal karena diracun dalam penjara. Pada tahun
150 H, bersamaan dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah, lahir Imam Syafii.
Metode Ijtihad Imam Abu Hanifah :
- Al-Quran
- Hadits dari riwayat kepercayaan.
- Ijma
- Fatwa Shabat
- Qiyas
- Istihsan (keluar dari qiyas umum karena ada alasan yang lebih kuat).
- Urf (kebiasaan yang baik dalam tata-pergaulan, muamalah dikalangan manusia)
Imam Abu Hanifah adalah orang pertama yang
meletakkan dasar-dasar kodifikasi ilmu Fiqih, pemikiran-pemikiran beliau
kemudian ditulis dan dibukukan oleh sahabat sekaligus murid-muridnya seperti
Abu Yusuf Al Qadhy dan Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani.
Fiqih mazhab Hanafi mewakili aliran Kufah,
menggunakan porsi rayu (Qiyas) lebih banyak dibandingkan aliran Hijaz yang
lebih banyak menggunakan hadits/atsar.
Kitab-kitab kumpulan fatwa mazhab Hanafi :
Tentang Masailul Ushul :
1. Al-Mabshuth, karya : Muhammad bin Al
Hasan.
2. Al-Jamius Shaghir, karya : Muhammad bin Al
Hasan.
3. Al-Jamiul Kabir, karya : Muhammad bin Al
Hasan.
4. As-Sairus Shaghir, karya : Muhammad bin Al
Hasan.
5. AS-Sairus Kabir, karya : Muhammad bin Al
Hasan.
6. Az-Zidayat, karya : Muhammad bin Al Hasan.
7. Al-Kafi, karya : Abdul Fadha Hammad bin
Ahmad.
8. Al-Mabshuth, karya : Muhammad bin Muhammad
bin Sahl.
Tentang Masailul Nawadhir :
1. Dhahirur Riwayah, karya : Muhammad bin Al
Hasan.
2. Haruniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan.
3. Jurjaniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan.
4. Kisaniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan.
5. Al-Mujarrad, karya : Hasan bin Ziad.
Tentang Fatwa wal Waqiat :
1. An Nawazil, karya : Abdul Laits As
Samarqandi.
Tentang Akidah dan Ilmu Kalam :
1. Fiqhul Akbar, diriwayatkan oleh Abi Muthi
Al Hakam.
Imam Malik bin Anas (93-179 H)
Nama lengkapnya Malik bin Anas bin Malik bin
Abu Amir bin Amir al-Asbahi al Madani. Beliau dilahirkan di Madinah tahun 93 H.
Sejak muda beliau sudah hafal Al-Quran dan sudah nampak minatnya dalam ilmu
agama.
Imam Malik belajar hadits kepada Rabiah,
Abdurrahman bin Hurmuz, Az-Zuhry, Nafi Maula Ibnu Umar. Belajar Fiqih kepada
Said bin Al Musayyab, Urwah bin Zubair, Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar
Shidiq, Abu Salamah, Hamid dan Salim secara bergiliran. Belajar qiraat kepada
Nafi bin Abu Numan.
Ibnu Al-Kasim berkata : Penderitaan Malik
selama menuntut ilmu sedemikian rupa, sampai-sampai ia pernah terpaksa harus
memotong kayu atap rumahnya, kemudian di jual kepasar.
Imam malik sangat memulikan ilmu dan
menghormati hadits Nabi. Imam Malik tidak mau mempelajari hadits dalam keadaan
berdiri. Beliau juga tidak mau menaiki kuda di kota Madinah karena beliau malu
berkuda diatas kota yang dibawah tanahnya ada makam Rasulullah SAW.
Ibnu Abdu Al-Hakam mengatakan : Malik sudah
memberikan fatwa bersama-sama dengan gurunya Yahya bin Saad, Rabiah dan Nafi,
meskipun usianya baru berusia 17 tahun. Beliau dikenal jujur dalam
periwayatannya.
Abu Dawud mengatakan : Hadits yang paling
shahih adalah yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi dari Ibnu Umar. Sesudah
itu adalah hadits dari Malik dari Az Zuhry dari Salim dari ayahnya. Beriktnya
adalah hadits dari Malik dari Abu Zanad dari Araj dari Abu Hurairah. Hadits
mursal Malik lebih shahih dari pada hadits mursal Said bin Al Musayyab atau
Hasan Al Basri.
Sufyan mengatakan : Jika Malik sudah
mengatakan balaghny telah sampai kepadaku, niscaya isnad hadits tersebut kuat.
Imam Syafii mengatakan : Jika engkau
mendengar suatu hadits dari Imam Malik, maka ambillah hadits itu dan
percayalah.
Imam Malik juga dikenal sangat hati-hati
dalam masalah hukum halal-haram. Imam Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : Kami
pernah disamping Imam Malik, ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau
lalu berkata : Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya, para
kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan
kepada engkau. Imam Malik berkata : Bertanyalah. Orang tadi lalu menyampaikan
pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : aku tidak memandangnya
baik. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas
memfatwakan hukumnya, Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang
menyuruh aku datang kemari, bilamana aku telah pulang kepada mereka ? Imam
Malik berkata : Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak
menganggapnya baik. Artinya beliau sangat hati-hati, tidak gegabah menghukumi
haram bila tidak ada dalil nash yang tegas mengharamkannya.
Imam Malik dipandang ahli dalam berbagai
cabang ilmu, khususnya ilmu hadits dan fiqih. Tentang penguasaannya dalam
hadits, beliau sendiri pernah mengatakan : Aku telah menulis dengan tanganku
sendiri 100.000 hadits. Beliau mengarang kitab hadits Al-Muwatta, merupakan
kitab hadits tertua yang sampai kepada kita.
Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Jafar Al
Manshur beliau pernah memberi fatwa bahwa akad orang yang dipaksa itu tidak
syah. Fatwa ini tidak disukai oleh pemerintah karena bisa membawa konsekuensi
juga bahwa baiat kepada penguasa karena terpaksa adalah juga tidak syah dan itu
dianggap membahayakan kekuasaan Bani Abbas.
Gubernur Madinah, Jafar bin Sulaiman
memerintahkan agar Imam Malik mencabut fatwanya, namun Imam Malik menolak.
Akibatnya gubernur memukulnya sampai 80 kali sampai tulang belikatnya retak dan
mengaraknya diatas kuda keliling kota Madinah. Sejak itu namanya bukannya
menjadi cemar, justru makin melambung dan harum dimata umat.
Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al
Rasyid, beliau meminta Imam Malik agar datang ke Baghdad dan mengajarkan Al
Muwatta untuk keluarga istana, maka Imam Malik berkata , Ilmu itu didatangi
bukan sebaliknya. Akhirnya Khalifah Harun Al Rasyid bersama dua anaknya Al
Mamun dan Al Amin datang ke Madinah untuk belajar kitab Al Muwatta.
Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : Aku
akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta sebagaimana Usman menggiring
pada Mushaf Al-Quran. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa
hal itu tidak mungkin, karena sejak Masa Khalifah Usman, sahabat Nabi sudah
tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa.
Kemudian Imam Malik pun mengarang kitab kumpulan fatwa-fatwa sahabat, yaitu : Syadaid
Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras), Rukhas
Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) dan Shawazh
Abdullah Ibnu Masud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Masud).
Metode Ijtihad Imam Malik bin Anas :
- Al-Quran
- Hadits (termasuk hadits dhaif yang diamalkan penduduk Madinah).
- Ijma
- Atsar yang diamalkan penduduk Madinah.
- Qiyas
- Mashlahah Mursalah (keluar dari Qiyas umum karena alasan mencari maslahat)
- Perkataan Sahabat.
Bila dibandingkan dengan Imam Abu Hanifah
(aliran Kufah), mazhab Imam Malik mewakili aliran Hijaz lebih banyak
berdasarkan hadits dan atsar, lebih sedikit menggunakan porsi dengan rayu
(Qiyas).
Kitab Kitab Mazhab Maliki :
1. Kitab Hadits, Al Muwatta.
2. Syadaid Abdullah bin Umar
(Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras)
3. Rukhas Abdullah bin Abbas
(Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan)
4. Shawazh Abdullah Ibnu Masud
(Pendapat-pendapat Abdullah bin Masud).
Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafii (150-204
H)
Seorang pemuda Quraisy yang nasabnya bertemu
dengan nasab Rasulullah pada Abdu Manaf, kakek generasi keempat diatas
Rasulullah. Beliau lahir di Ghaza, Palestina (riwayat lain lahir di Asqalan,
perbatasan dengan Mesir) pada tahun 150 H, pada tahun yang sama dengan
meninggalnya Imam Abu Hanifah. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim, diasuh
dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi serba kekurangan (miskin).
Beliau dikenal sebagai murid yang sangat
cerdas. Pada usia tujuh tahun sudah dapat menghafal Al-Quran. Kemudian beliau
pergi ke kampung Bani Huzail untuk mempelajari sastra Arab dari Bani Huzail
yang dikenal halus bahasanya. Sampai suatu ketika beliau bertemu dengan Muslim
bin Khalid Az Zanji yang menyarankan agar beliau mempelajari fiqih.
Imam Syafii kemudian berguru kepada Imam
Muslim bin Khalid Az Zanji (mufti Mekkah). Pada usia 10 tahun Imam SyafiI sudah
hafal kitab Al-Muwatta karya imam Malik. Pada usia 13 tahun bacaan Al-Quran
imam Syafii yang sangat merdu mampu membuat pendengarnya menangis tersedu-sedu.
Pada usia 15 tahun beliau diijinkan oelh gurunya untuk memberi fatwa di
Masjidil Haram.
Ketika berumur 20 tahun Imam Syafii ingin
berguru langsung kepada Imam Malik bin Anas, pengarang kitab Al Muwatta di
Madinah. Niat itu didukung oleh gurunya dan didukung juga oleh gubernur Mekkah
yang membuatkan surat pengantar untuk gubernur Madinah meminta dukungan bagi
keperluan Imam Syafii dalam belajar kepada Imam Malik di Madinah.
Dengan diantar gubernur Madinah, Imam Syafii
mendatangi rumah Imam Malik. Mula-mula Imam Malik kurang suka dengan adanya
surat pengantar dalam urusan menuntut ilmu. Tapi setelah pemuda Syafii bicara
dan mengemukakan keinginannya yang kuat untuk belajar, apalagi setelah
mengetahui bahwa pemuda Syafii telah hafal Al-Quran dan hafal kitab Al Muwatta
karangannya, maka Imam Malik menjadi kagum dan akhrinya menerimanya menjadi
muridnya.
Imam Syafii kemudian menjadi murid
kesayangannya dan tinggal di rumah Imam Malik. Imam Syafii juga dipercaya
mewakili Imam Malik membacakan kitab Al-Muwatta kepada jamaah pengajian Imam
Malik. Sekitar satu tahun Imam Syafii tinggal bersama Imam Malik bin Anas,
hingga akhirnya Imam Syafii ingin pergi ke Irak, untuk mempelajari fiqih dari
penduduk Irak, yaitu murid-murid Imam Abu Hanifah. Imam Malik pun mengijinkan
dan memberikan uang saku sebesar 50 dinar.
Sesampai di Irak, imam Syafii menjadi tamu
Imam Muhammad Al Hasan (murid Abu Imam Abu Hanifah). Beliau banyak berdiskusi
dan mempelajari kitab-kitab mazhab Hanafi yang dikarang oleh Muhammad Al Hasan
dan Abu Yusuf. Setelah sekitar dua tahun berdiam di Irak, Imam Syafii
meneruskan pengembaraan ke Persia, Anatolia, Hirah, Palestina, Ramlah. Di
setiap kota yang dikunjungi Imam Syafii mengunjungi ulama-ulama setempat,
melakukan diskusi mempelajari ilmu dari mereka dan mempelajari adat-istiadat
budaya setempat. Setelah bermukim 2 tahun di Irak dan 2 tahun mengembara
berkeliling ke negeri negeri Islam akhirnya Imam Syafii kembali ke Madinah dan
disambut penuh haru oleh gurunya yaitu Imam Malik bin Anas. Kemudian Imam Syafii
selama empat tahun lebih tinggal di rumah Imam Malik dan membantu gurunya dalam
mengajar, sampai meninggalnya Imam Malik pada tahun 179 H.
Sepeninggal Imam Malik, ketika itu beliau
berusia 29 tahun, maka tidak ada lagi orang yang membantu keperluan beliau.
Atas pertolongan Allah pada tahun itu juga datang wali negeri Yaman ke Madinah
yang mengetahui bahwa Imam Malik bin Anas telah wafat dan mengetahui tentang
salah seorang muridnya yang cerdas dan ahli yaitu Imam Syafii. Wali Negeri
Yaman mengajak Imam Syafii ikut ke Yaman untuk menjadi sekertaris dan penulis
istimewanya. Di Yaman beliau menikah dengan Hamidah binti Nafi (cucu Usman bin
Affan) dan dikaruniai seorang putra dan dua orang putri.
Di Yaman Imam Syafii juga masih terus
belajar, terutama kepada Imam Yahya bin Hasan. Disana beliau juga banyak
mempelajari ilmu firasat yang pada saat itu sedang marak dipelajari.
Pada waktu itu Yaman merupakan salah satu
pusat pergerakan kaum Alawiyin yang berusaha memberontak terhadap kekuasaan
Bani Abbas. Berdasarkan laporan mata-mata Khalifah maka beberapa tokoh
orang-orang Alawiyin dan termasuk juga Imam Syafii ditangkap dan dibawa ke
Baghdad untuk diinterogasi oleh Khalifah Harun Al Rasyid.
Setelah diinterogasi dan berdialog dengan
Khalifah Harun Al Rasyid, beliau dibebaskan dari segala tuduhan, sedangkan
semua orang-orang Alawiyin dibunuh oleh Khalifah. Setelah bebas dibebaskan,
Imam Syafii sempat beberapa lama tinggal di Baghdad dan menuliskan fatwa-fatwa qaul
qadim (pendapat lama) nya. Selama di Baghdad ini pula pemuda Ahmad bin
Hanbal berguru kepada beliau mempelajari fiqih.
Pada sekitar tahun 200 H, Abbas bin Abdullah
diangkat menjadi gubernur Mesir. Gubernur Mesir yang baru tersebut mengajak
Imam Syafii ikut ke Mesir untuk dijadikan Qadly sekaligus mufti di Mesir. Maka
akhirnya Imam SyafiI tinggal di Mesir bersama sang Gubernur.
Setibanya di Mesir, Imam Laits bin Saad mufti
Mesir telah meninggal, maka beliau mempelajari fiqih Imam Laits melalui
murid-muridnya. Di Mesir inilah beliau menuliskan fatwa-fatwa qaul jadid
(pendapat baru) nya. Imam Syafii terus mengajar dan menjadi mufti, memberikan
fatwa-fatwa di Masjid Amr bin Ash sampai wafatnya.
Metode Ijtihad Imam Syafii :
1. Al-Quran
2. Hadis
3. Ijma
4. Qiyas
5. Istidlal
Imam Syafii adalah orang pertama yang
menyusun sistematika, perumus dan yang mengkodifikasikan ilamu Ushul Fiqih,
melalui kitabnya Ar Risalah. Beliau menerangkan cara-cara istinbath
(pengambilan hukum) dari Al-Quran dan Hadist, menerangkan mukashis nash yang
mujmal, menerangkan cara mengkompromikan dan men tarjih nash-nash yang secara
zahirnya saling bertentangan, menerangkan kehujahan Ijma, qiyas dsb. Imam
Syafii Juga melakukan penilaian terhadap metode ihtihsan Imam Abu Hanifah,
metode maslahah mursalah dan praktek penduduk Madinah yang dipakai oleh Imam
Malik.
Kitab-kitab mazhab Syafii :
1. Ar Risalah, kitab pertama yang menguraikan
tentang ilmu Ushul Fiqih.
2. Al Um (kitab induk), berisi pembahasan
berbagai masalah fiqih.
3. Jamiul Ilmi.
4. Ibthalul-Istihsan, berisi penilaian
terhadap metode Istihsan.
5. Ar-Raddu ala Muhammad ibn Hasan, berisi
mudhabarah, diskusi dan bantahan terhadap pendapat Muhammad ibn Hasan, murid
utama Imam Abu Hanifah.
6. Siyarul Auzay, berisi pembelaan terhadap
Imam Al-Auzay.
7. Mukhtaliful Hadits, berisi cara
mengkompromikan hadits-hadits yang secara zahir saling bertentangan.
8. Musnad Imam Syafii, berisi kumpulan hadits
yang diterima dan diriwayatkan oleh Imam Syafii.
Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H)
Lahir di kota Baghdad pada tahun 164 H.
Ayahnya meninggal ketika beliau masih anak-anak dan kemudian dibesarkan dan
diasuh oleh ibunya. Kota Baghdad pada waktu itu merupakan ibukota Kekhalifahan
Bani Abbas dan merupakan gudangnya para ulama dan ilmuwan. Imam Ahmad bin
Hanbal banyak berguru pada ulama-ulama di kota kelahirannya tersebut.
Ketika berumur 16 tahun, pemuda Ahmad bin
Hanbal pergi mengembara menuntut ilmu, terutama berburu hadits-hadits Nabi
sampai ke Kufah, Basrah, Syria, Yaman, Mekkah dan Madinah.
Mengenai gurunya ada puluhan orang yang
semuanya adalah ulama-ulama dalam berbagai bidang ilmu. Diantara gurunya adalah
Sufyan bin Uyainah, Abu Yusuf Al Qadhy dan Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafii.
Imam Hanbali dikenal sangat gemar dan
bersemangat menuntut ilmu, berburu hadits, ahli ibadah, wara dan zuhud. Imam
Abu Zurah mengatakan : Imam Ahmad bin Hanbal hafal lebih dari 1.000.000 (satu
juta) hadits. Sementara anaknya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan :
Ayahku telah menuliskan 10.000.000 hadits banyaknya dan tidaklah beliau
mencatatnya hitam diatas putih, melainkan telah dihafalnya diluar kepala.
Ketika pemerintahan ada ditangan Khalifah Al
Mamun, saat itu kaum Mutazilah berhasil mempengaruhi Khalifah untuk mendukung
pemikiran mereka dan mempropagandakan pendapat bahwa Al-Quran adalah mahkluk.
Kaum Mutazilah yang didukung penuh oleh Khalifah Al-Mamun memaksakan pendapat
itu kepada seluruh rakyat.
Para Ulama yang tidak sependapat ditangkap
dan diinterogasi ke istana. Hampir semua ulama tidak berani menentang karena
takut dihukum berat. Satu-satunya ulama yang tetap istiqomah menentang pendapat
bahwa Al-Quran adalah makhluk hanyalah Imam Ahmad bin Hanbal. Akibatnya beliau
disiksa, dipukuli dan hampir saja dibunuh. Rupanya Allah menyelamatkan beliau
karena tiba-tiba Khalifah Al Mamun meninggal secara mendadak di Tharsus,
sehingga eksekusi hukuman mati kepada Imam Ahmad bin Hanbal tidak sampai
dilaksanakan.
Sepeninggal Al Mamun, dua orang Khalifah
penggantinya yaitu Al Muntashir dan Al-Watsiq masih meneruskan kebijaksanaan
mendukung kaum Mutazilah dan progandanya bahwa Al-Quran adalah makhluk. Selama
itu Imam Ahmad bin Hanbal hidup dalam persembunyian dan mengasingkan diri.
Setelah Al-Watsiq, yang naik tahta adalah
Khalifah Al-Mutawakil. Pada masa Al-Mutawakil inilah propaganda bahwa Al-Quran
adalah makhluk dihentikan sama sekali. Bahkan Khalifah menangkapi dan menghukum
ulama-ulama Mutazilah yang dahulu menjadi pelopor utama propaganda kemakhlukan
Al-Quran.
Khalifah Al Mutawakil sangat menghormati dan
memuliakan Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau dijadikan penasehat resmi istana, dan
Khalifah mendukung penuh ajaran-ajaran Imam Ahmad bin Hanbal dan para ahli
hadits.
Metode Ijtihad Imam Ahmad bin Hanbal :
1. Al-Quran
2. Hadits
3. Ijma Sahabat
4. Fatwa Sahabat
5. Atsar Tabiin
6. Hadits Mursal / Dhaif
7. Qiyas
Metode istinbath Imam Ahmad bin Hanbal lebih
banyak menyandarkan pada hadits dan atsar dari pada menggunakan rayu (ijtihad).
Beliau lebih menyukai berhujjah dengan hadis dhaif untuk masalah furuiyah
daripada menggunakan Qiyas.
Kitab-kitab mazhab Hanbali :
- Tafsir Al-Quran.
- Musnad Imam Ahmad, sebuah kitab kumpulan hadits yang tebal.
- Kitab Nasikh wal Mansukh.
- AL Muqaddam wal Muakhkhar fil Quran.
- Jawabatul Quran.
- Kitab At Tarikh.
- Al Manasikul Kabir.
- Al Manasikus Saghir.
- Thaatur Rasul.
10. Al-Illah.
11. Kitab Zuhud.
12. Kitab Ash Shalah.
III. Ijtihad
Ijtihad adalah mempergunakan segala kesanggupan
untuk mengeluarkan (istinbath) hukum syara dari sumbernya (Al-Quran dan
Hadits).
A. Aliran Hadits / Atsar
Para ulama hijaz (Mekkah-Madinah) yang
dipelopori oleh Said Al Musayyab dalam ber ijtihad lebih banyak bersandar
kepada hadits dan atsar sahabat. Kelompok Hijaz ini banyak jarang menggunakan
rayu (qiyas) dalam metode ijtihadnya, dengan latar belakang sebagai berikut :
1. Penduduk Hijaz mewarisi kekayaan hadits
dan atsar dari para Sahabat Nabi yang banyak tinggal di Hijaz, seperti
ketetapan Abu Bakar, Umar, Usman, juga fatwa-fatwa dari : Zaid bin Tsabit,
Aisyah dan riwayat dari Abu Hurairah, Abu Said Al Kudry, dll.
2. Negeri Hijaz yang berada di pedalaman
semenanjung Arabia, relatif tidak banyak mengalami dinamika perubahan sosial.
3. Banyaknya Hadits dan atsar yang mereka
terima dan ditunjang oleh dinamika sosial yang lebih statis menyebabkan mereka
kurang menggunakan daya analisis. Ulama Hijaz lebih mencukupkan diri dengan
memegangi teks-literalis nash.
4. Mengikuti guru mereka, yaitu Abdullah bin
Umar yang sangat tergantung pada hadits dan atsar dan sangat hati-hati dalam
menggunakan rayu (qiyas).
B. Aliran Rayu
Setelah terbunuhnya Khalifah Usman, kemudian
berlanjut dengan perang Jamal yang menuntut balas atas darah Usman. Muawiyah
tidak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib sehingga meletus perang Shiffin.
Setelah peristiwa tahkim muncul kaum Khawarij dan kelompok Syiah. Kericuhan itu
terus berlanjut sampai terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. Setelah itu
Bani Umayyah menguasai pemerintahan dengan cara paksa.
Kelompok Khawarij, Syiah dan Bani Umayyah
satu sama lain saling bermusuhan dan saling menumpahkan darah. Sejak itu mulai
timbul hadits-hadits palsu yang dibuat untuk memperkuat kelompoknya
masing-masing. Kelompok Syiah Rafidah yang bermarkas di Kufah dikenal paling
banyak membuat Hadits palsu. Dengan latar belakang tersebut selanjutnya para
ulama Kufah sangat hati-hati dalam menerima periwayatan hadits.
Para Ulama Kufah (Iraq) yang dipelopori oleh
Ibrahim An Nakhay dalam ijtihadnya menggunakan rayu (qiyas) dengan porsi yang
lebih besar daripada ulama Hijaz. Hal itu dilatar belakangi oleh hal-hal
sebagai berikut :
- Para Sahabat Nabi yang tinggal di Kufah tidak sebanyak yang tinggal di Hijaz, sehingga kekayaan hadits dan atsar yang mereka terima tidak sebanyak yang diterima penduduk Hijaz. Penduduk Kufah menerima hadits dari : Ibnu Masud, Saad bin Abi Waqash, Ali bin Abi Thalib, Amar bin Yasir, Abu Musa Al-Asyari, Mughirah bin Subah, Anas bin Malik, Hudzaifah bin Al Yaman.
- Di Kufah mulai marak para pemalsu hadits, terutama dari kelompok Syiah Rafidah, sehingga Ulama Kufah lebih hati-hati dan lebih selektif dalam menerima hadits.
- Kufah adalah kota yang lebih ramai dibanding Hijaz, berdekatan dengan wilayah Persia yang sebelum memeluk agama Islam, penduduknya sudah mempunyai peradaban dan cara berpikir yang maju (rasional). Disamping itu di Kufah merupakan pusat pergerakan kaum Syiah dan Khawarij. Jadi di Kufah mengalami dinamika perubahan sosial yang lebih tinggi yang menuntut pemikiran daripada sekedar mengandalkan teks hadits yang diterima dari riwayat sahabat di masa Nabi.
- Menurut Ulama Kufah hukum syariat memiliki makna logis, mencakup seluruh kemaslahatan umat, didasarkan pada pokok-pokok yang muhkam (jelas dan dapat dipahami) dan mengandung alasan-alasan yang tepat bagi hukum. Mereka berusaha meneliti alasan-alasan dari setiap penetapan hukum dan menggali hikmah yang terkandung didalamnya (qarinah dan maqashid syariah), serta menjadikan hukum itu sejalan dengan himah yang didapat. Kadang-kadang mereka menolak sebagian hadits ahad karena dianggap bertentangan dengan hikmah persyaratannya. Apalagi bila mereka mendapatkan hadits/atsar yang bertentangan dengan hikmah pen syariatannya.
- Ulama Kufah mengikuti metode ijtihad guru mereka dari sahabat Nabi Abdullah bin Masud yang dikenal mengikuti Umar bin Khattab yang banyak menggunakan daya analitis memperhatikan qarinah, maqashid syariah dan pertimbangan kemaslahatan.
Gambaran perbedaan paham antara ahli qiyas
dan ahli hadits :
Pada suatu hari Rabiah (ahli qiyas) bertanya
kepada Said Al Musayyab (ahli hadits) tentang diyat (denda) anak jari perempuan
yang terpotong :
Rabiah :Berapa diyat terhadap sebuah anak
jari orang perempuan ?
Said Al Musayyab: 10 ekor onta.
Rabiah : Jika dua anak jari ?
Said Al Musayyab : 20 ekor onta
Rabiah : Jika tiga anak jari ?
Said Al Musayyab :30 ekor onta.
Rabiah : Jika empat anak jari ?
Said Al Musayyab : 20 ekor onta
Rabiah : Apakah makin banyak jari yang
terpotong, semakin besar diyatnya ?
Said Al Musayyab : Apakah anda bermazhab
ulama Iraq ? itulah sunnah saya telah terangkan.
Demikianlah ahli hadits hanya menerima
mentah-mentah teks hadits, sedangkan ahli rayu tidak begitu saja menerima teks
hadits yang tidak diketahui illlat-illat hukumnya atau yang tidak logis menurut
akal. Bagaimana diyat empat anak jari malah turun menjadi 20 ekor, padahal
diyat satu anak jari sampai tigak anak jari naik terus dari 10 sampai 30 ekor.
Pada suatu hari Al Auzai bertemu dengan Abu
Hanifah di Mekkah, kemudian Al Auzai bertanya kepada Abu Hanifah :
Al Auzai : Mengapa tuan tidak mengangkat
tangan ketika ruku dan Itidal ?
Abu Hanifah : Karena tidak ada hadits yang
shahih dari Rasul.
Al Auzai : Az Zuhri telah meriwayatkan kepada
saya dari Salim, dari ayahnya Abdullah bin Umar, dari Rasulullah SAW,
bahwasanya Nabi ada mengangkat tangan saat memulai shalat, saat ruku dan ketika
Itidal.
Abu Hanifah : Telah diriwayatkan kepada kami
oleh Hammad bin Sulaiman dari Alqamah dari Al Aswad dari Ibnu Masud bahwa
Rasulullah tidak mengangkat tangan selain dari saat memulai shalat saja.
Al Auzai : Saya kemukakan penilaian tentang
Az Zuhri dan anda kemukakan penilaian tentang Hammad.
Abu Hanifah : Hammad lebih pandai dalam
urusan fiqih daripada Az Zuhri. Ibrahim lebih pandai dari Salim, Alqamah tidak
kurang derajadnya daripada Abdullah, walaupun seorang Shahabi.
Mendengar jawaban itu, Al Auzai pun minta
diri. Dari situ tampak bagaimana Abu hanifah sebagai tokoh ahli qiyas lebih
mengutamakan kefaqihan perawi daripada ketinggian sanad.
Demikianlah beberapa contoh perbedaan paham
antara ahli hadits dan ahli rayu.
C. Aliran zahiri
Dipelopori oleh Daud bin Ali Al-Zhahiri
(202-268 H), yang hanya memegangi makna zhahir (tekstualis-literalis) nash
Al-Quran dan Hadits tanpa mau memegangi makna lainnya.
Kalau digambarkan secara kualitatif metode
para imam mazhab dalam menggunakan metode istinbath Hadist-tekstualis dan
Qiyas-rasionalis kurang lebih seperti dibawah ini :
Hadits Qiyas
Tekstualis Daud bin Ali (Zahiri) - Hanbali
Maliki Syafii - Hanafi Rasionalis
D. Sumber Perbedaan Pendapat
Bagi yang sudah membaca Ushul Tafsir dan Ilmu
Hadits disitu ada beberapa ulasan tentang Al-Quran dan Hadits yang diantaranya
menjadi sumber perbedaan pendapat diantara para ulama Mujtahid. Sumber
perbedaan pendapat didalam Fiqih :
1. Perbedaan memahami Al-Quran
A. Adanya ayat-ayat yang musytarak (lebih
dari dua arti).
B. Adanya ayat-ayat yang masih mujmal
(global).
C. Adanya ayat-ayat yang Am (umum)
D. Adanya perbedaan penafsiran cakupan
lafazh.
E. Adanya perbedaan penafsiran makna
hakiki-majasi.
F. Adanya perbedaan pendapat penggunaan
mafhum.
G. Perbedaan pendapat memahami ayat perintah
dan larangan.
2. Perbedaan Memahami Hadits
A. Perbedaan penilaian kesahihan sebuah
hadits ahad.
B. Perbedaan penilaian ke-tsiqoh-an seorang
rawi.
C. Perbedaan sampainya hadits kepada para
Mujtahid.
D. Perbedaan penafsiran matan (redaksi) suatu
hadits.
E. Perbedaan penerimaan hadits dhaif sebagai
hujjah.
F. Perbedaan perimaan hadits yang ada
mukhtalif (pertentangan) dengan qiyas dan atau illat syariah
3. Perbedaan Metode Ijtihad.
A. Imam Abu Hanifah :
a. Berpegang pada dalalatul Qur’an
i. Menolak mafhum mukhalafah
ii. Lafz umum itu statusnya Qat’i selama
belum ditakshiskan
iii. Qiraat Syazzah (bacaan Qur’an yang tidak
mutawatir) dapat dijadikan dalil
b. Berpegang pada hadis Nabi
i. Hanya menerima hadis mutawatir dan masyhur
(menolak hadis ahad kecuali diriwayatkan oleh ahli fiqh)
ii. Tidak hanya berpegang pada sanad hadis,
tetapi juga melihat matan-nya
c. Berpegang pada qaulus shahabi (ucapan atau
fatwa sahabat)
d. Berpegang pada Qiyas
i. mendahulukan Qiyas dari hadis ahad
e. Berpegang pada istihsan (keluar dari Qiyas
umum karena ada sebab khusus yang lebih kuat).
B. Imam Malik
a. Nash (Kitabullah dan Sunnah yang
mutawatir)
i. zhahir Nash
ii. menerima mafhum mukhalafah
b. Berpegang pada amal perbuatan penduduk
Madinah
c. Berpegang pada Hadis ahad (jadi, beliau
mendahulukan amal penduduk Madinah daripada hadis ahad)
d. Qaul shahabi
e. Qiyas
f. Istihsan
g. Mashlahah al-Mursalah (mempertimbangkan
aspek kemaslahatan, contoh beliau membolehkan intimidasi dalam penyidikan
tersangka kejahatan untuk mendapatkan pengakuannya).
C. Imam Syafii
a. Qur’an dan Sunnah (artinya, beliau menaruh
kedudukan Qur’an dan Sunnah secara sejajar, karena baginya Sunnah itu merupakan
wahyu ghairu matluw). Inilah salah satu alasan yang membuat Syafi’i digelari
“Nashirus Sunnah”. Konsekuensinya, menurut Syafi’i, hukum dalam teks hadis
boleh jadi menasakh hukum dalam teks Al-Qur’an dalam kasus tertentu)
b. Ijma’
c. hadis ahad (jadi, Imam Syafi’i lebih
mendahulukan ijma’ daripada hadis ahad)
d. Qiyas (berbeda dg Imam Abu Hanifah, Imam
Syafi’i mendahulukan hadis ahad daripada Qiyas)
e. Beliau tidak menggunakan fatwa sahabat,
istihsan dan amal penduduk Madinah sebagai dasar ijtihadnya
D. Imam Ahmad bin Hanbal
a. An-Nushush (yaitu Qur’an dan hadis.
Artinya, beliau mengikuti Imam Syafi’i yang tidak menaruh Hadis dibawah
al-Qur’an)
menolak ijma’ yang berlawanan dengan hadis
Ahad (kebalikan dari Imam Syafi’i)
menolak Qiyas yang berlawanan dengan hadis
ahad (kebalikan dari Imam Abu Hanifah)
b. Berpegang pada Qaulus shahabi (fatwa
sahabat)
c. Ijma’
d. Hadis dhaif
e. Qiyas
IV. Pembagian Pembahasan Fiqih
Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid
membagi pembahasan fiqih sebagai berikut :
1. Bagian Ibadah.
1.1. Kitab Taharah
1.1.1. Taharah dari hadas
1.1.2. Taharah dari najis
1.2. Kitab Kitab Shalat
1.3. Kitab Janazah
1.4. Kitab Zakat
1.5. Kitab Zakat Fitrah
1.6. Kitab Shiyam (puasa)
1.7. Kitab Itikaf
1.8. Kitab Haji
1.9. Kitab Jihad
1.10. Kitab Aiman (sumpah)
1.11. Kitab Nadar
1.12. Kitab Qurban
1.13. Kitab Sembelihan
1.14. Kitab Berburu
1.15. Kitab Aqiqah
1.16. Kitab makanan dan minuman yang haram
2. Bagian Munakahat
2.1. Kitab Nikah
2.2. Kitab Talak
2.3. Kitab Ila (sumpah talak)
2.4. Kitab Dhihar
2.5. Kitab Lian (mengatakan punggung istrinya
sama dengan punggung ibunya)
2.6. Kitab Hadlanah (yang berhak memelihara
anak)
2.7. Kitab Radlai (penyusuan anak)
2.8. Kitab Nafkah
2.9. Kitab Nasab
2.10. Kitab Ihdad (berkabung)
3. Bagian Muamalat Madaniyah
3.1. Kitab Buyu (jual beli)
3.2. Kitab Sharfi (jual beli perhiasan)
3.3. Kitab Salam (jual beli pesanan)
3.4. Kitab Khiyar (pilihan untuk meneruskan
atau membatalkan transaksi)
3.5. Baiil Murabahah (penjualan yang ditentukan
jumlah keuntungannya oleh penjual)
3.6. Kitab Baiil Ariyah (memberikan pohon
untuk dimakan buahnya)
3.7. Kitab Irat (sewa-menyewa)
3.8. Kitab Juli (upah bagi yang menemukan
barang yang hilang)
3.9. Kitab Qiradli (berdua laba)
3.10. Kitab Musaqah (paroh hasil merawat
kebun)
3.11. Kitab Syarikah (berdua saham)
3.12. Kitab Syufah
3.13. Kitab Qismah (pembagian)
3.14. Kitab Ruhun (gadai)
3.15. Kitab Al Hajr (orang yang dilarang
bertindak sendiri)
3.16. Kitab Taflis (orang pailit)
3.17. Kitab Shulhi (kesepakatan damai dari
persengketaan)
3.18. Kitab Jaminan dan Tanggungan
3.19. Kitab Hawalah (pemindahan hutang)
3.20. Kitab Wakalah (memberi kuasa)
3.21. Kitab Luqathah (barang temuan)
3.22. Kitab Wadiah (menitipkan barang)
3.23. Kitab Ariyah (peminjaman barang)
3.24. Kitab Ghasbi (penyerobotan hak milik
orang lain)
3.25. Kitab Ishtihqaq (memperoleh kembali
haknya)
3.26. Kitab hibah
3.27. Kitab Washaya
3.28. Kitab Faraidl (warisan)
3.29. Kitab Itqi (memerdekakan budak)
3.30. Kitab Kitabah (menebus diri dari perbudakan)
3.31. Kitab Tadbir (kemerdekaan budak setelah
tuannya meninggal)
3.32. Kitab Umahatil Aulad (budak yang
dijadikan ibu anaknya)
4. Bagian Inayat wa Uqubat (pidana)
4.1. Kitab Qisas (pembunuhan dan melukai)
4.2. Kitab Jarahi (qisas, diat, pembebasan
tuntutan)
4.3. Kitab Diyat (denda pembunuhan)
4.4. Kitab Qasamah (sumpah penduduk yang
ditemukan mayat di kampungnya)
4.5. Kitab Zina
4.6. Kitab Qadzaf (tukas)
4.7. Kitab Khamr
4.8. Kitab Sariqah (pencurian)
4.9. Kitab Hirabah (perampokan, penjarahan, perusuh)
5. Bagian Peradilan
5.1. Kitab Aqdliyah (kehakiman)
5.2. Kitab Syahadah (kesaksian dan sumpah
menolak tuduhan)
V. Mujtahid, Mufti dan Hakim
A. Jenis Mujtahid
1. Mujtahid Mutlaq : yaitu para Khulafaur
Rasyidin, yang sudah ada garansi dan rekomendasi dari Rasul untuk diikuti oleh
umat.
2. Mujtahid Mustaqil : yaitu para imam mazhab
fiqih yang muktabar.
3. Mujtahid fil Mazhab : yaitu lebih banyak
mengikuti salah satu imam mazhab tapi dalam beberapa masalah pokok berbeda
pendapat dengan imamnya. Contohnya Abu Yusuf, Muhamad Al Hasan dari mazhab
hanafi, Al Muzany dari mazhab Syafii.
4. Mujtahid fil Masail : yaitu mempunyai
ijtihad sendiri dalam beberapa masalah cabang, bukan pada masalah pokok,
seperti At Tahawi dalam mazhab Hanafi, Al Ghazali dalam mazhab SyafiI, Al
Khiraqi dalam mazhab Hanbali.
5. Mujtahid Muqaiyad : yaitu tidak
mengeluarkan ijtihad sendiri, kecuali terhadap masalah-masalah yang belum
dibahas oleh imam mazhab sebelumnya. Mujtahid ini mengetahui seluk-beluk dan
argumen para imam mazhab, mampu men tarjih mana yang lebih kuat dan lebih utama
dari pendapat imam mazhab yang berbeda-beda. Contohnya Al Karakhi, Al Qaduri
dalam mazhab Hanafi, Ar Rafi dan An Nawawi dalam mazhab Syafii.
B. Syarat-syarat Mujtahid
1. Akidahnya benar.
2. Bersih dari hawa nafsu.
3. Mengetahui bahasa arab dengan segala
cabangnya, seperti : nahwu (gramatika), sharaf (konyugasi), balagah (retorika),
maani, bayan (kejelasan) dan badi (efektifitas bicara), mengetahui irab (fungsi
kata dalam kalimat), tasrif (konyugasi), masdar (kata dasar), musytaq (bentuk
kata turunan), serta mengetahui syair-syair Arab lampau yang terkenal untuk
mengetahui arti kata-kata sulit yang jarang digunakan.
Mujahid berkata : Tidak diperkenankan bagi
orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berbicara tentang
Kitabullah (menafsirkan) apabila ia tidak mengetahui berbagai dialek bahasa
Arab.
4. Memahami ilmu Al-Quran dan ilmu tafsir.
5. Mengetahui ilmu hadits, atsar sahabat dan
tabiin.
6. Mengetahui Ijma masa Khulafaur Rasyidin.
7. Mengetahui ilmu fikih dan ushul fikih.
8. Pemahaman dan ketelitian yang cermat akan
qarinah, dhalalah nash, illat hukum, serta tujuan tasyri sehingga mampu
menyimpulkan makna yang sejalan dengan syariat.
C. Mufti dan Hakim
Mufti adalah orang yang memberikan fatwa
biasanya tentang hukum fiqih sesuatu masalah, sedangkan hakim adalah orang yang
menjatuhkan vonis keputusan hukum terhadap suatu sengketa masalah antara dua
pihak yang bersengketa. Keduanya sama sama memutuskan hukum berdasarkan hukum
syara.
Sedangkan perbedaan antara mufti dan hakim
adalah :
1. Memberi fatwa lebih luas lapangannya
daripada menjatuhkan vonis putusan hukum. Fatwa boleh dilakukan oleh orang
merdeka, budak, pria, wanita, famili, kerabat, orang asing. Sedangkan vonis
putusan hanya diberikan oleh orang merdeka, laki-laki, tidak ada hubungan
kerabat dengan yang bersengketa.
2. Putusan hakim mengikat kedua belah pihak
yang bersengketa, sedangkan fatwa mufti boleh diterima boleh tidak.
3. Fatwa mufti tidak dapat membatalkan
putusan hakim, sedangkan keputusan hakim dapat membatalkan fatwa mufti.
4. Mufti tidak dapat memberi putusan kecuali
mufti tersebut juga menjadi hakim sedangkan hakim harus memberikan fatwa
apabila telah menjadi suatu keharusan.
5. Hakim sebaiknya tidak memberikan fatwa
terhadap masalah-masalah yang mungkin muncul dalam peradilan, karena
dikhawatirkan bila hakim memutuskan putusan yang berbeda dengan fatwanya,
tentunya itu akan menyulitkan.
Syuraih Al Qadhy pernah berkata :
Saya memutuskan perkara diantara kamu bukan
memberikan fatwa.
VI. Ittiba dan Taqlid
Ittiba adalah mengikuti pendapat (ijtihad)
orang lain dengan mengetahui argumen, dalil-hujjahnya, sedangkan taqlid adalah
mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain tanpa mengetahui argumen,
dalil-hujjahnya.
Imam Ghazali dalam Al Mustafa mengatakan :
Ittiba dalam agama disuruh, sedangkan taqlid
dilarang.
Hukum Taqlid :
a. Taqlid yang wajib : taqlid kepada
Rasulullah, dalam istilah kaum salaf taqlid kepada Rasulullah disebut ittiba.
b. Taqlid yang haram :
1. Tidak menghiraukan nash syara semata-mata
lantaran mengikuti orang tua, moyang-leluhur.
2. Taqlid kepada seseorang yang belum
muktabar diakui apakah punya kompetensi untuk meng istinbath-kan hukum fiqih.
3. Taqlid buta karena fanatik terhadap orang
tertentu walaupun ada hujjah dan argumen yang lebih kuat yang bertentangan
dengan pendapat orang tersebut.
c. Taqlid yang dibolehkan : mengikuti
pendapat ulama mujtahid yang sudah muktabar mempunyai kompetensi meng
istinbathkan hukum fiqih, terutama bagi orang awam yang tidak punya kemampuan
mengetahui hukum hukum syara secara mendalam.
Periode Taqlid :
1. Periode pertama (pasca masa Imam Mazhab,
abad ke-IV H jatuhnya Baghdad abad ke-VII H),
2. Periode kedua dari abad ke-IV H abad ke-X
H.
3. Periode ketiga dari abad ke-X H sampai masa
Muhammad Abduh.
4. Periode keempat dari masa Muhammad Abduh
sekarang.
Dalam masa maraknya masa taqlid tetapi masih
ada juga ulama ulama mujtahid yang tetap menghidupkan api ijtihad diantaranya :
1. Izzudin bin Abdis Salam (578-660 H).
2. Ibnu Daqiqil Ied (615-702 H).
3. Ibnu Rifah (645 710 H).
4. Ibnu Taimiyah (661-728 H).
5. Ibnu Qoyyim Al Jauziah (691-751 H).
6. An Nawawi
7. Al Bulqini (724 805 H).
8. Ibnu Hajar Atsqolani (773-858 H).
9. Al Asnawi (714-784 H)
10. Al Jalalul Mahalli (791-864 H).
11. Al Jalalus Suyuthi (846 911 H).
12. Ash Shanani (abad XII H) pengarang
Subulussalam.
13. Asy Syaukani (abad XII H) pengarang
Nailul Authar.
14. Muhammad Abduh, dari Al Azhar menerbitkan
tabloid Al Manar.
15. Rasyid Ridha.
VII. Ketentuan Hukum (Mahkum Bih)
A. Wajib
Yaitu pekerjaan yang bila tidak dikerjakan
mendapatkan dosa.
Hukum wajib terbagi menjadi :
1. Wajib Muthlaq = wajib yang tidak
ditentukan dan tidak dibatasi waktunya, contoh : wajib membayar kafarah sumpah,
tapi waktunya tidak ditentukan oleh syara.
2. Wajib Muwaqqat = wajib yang ditentukan
waktunya, contoh shalat lima waktu, puasa ramadhan.
3. Wajib Muwassa = wajib yang diluaskan
waktunya, contoh waktu shalat lima waktu, sholat isak dari petang sampai subuh.
4. Wajib Mudhaiyaq = wajib yang sempit waktunya,
puasa ramadhan waktu mulainya dan berakhirnya sama yaitu dari terbit fajar
sampai maghrib.
5. Wajib Dzu Syabahain = wajib muwassa
sekaligus mudhaiyaq, yaitu waktu mulainya sama dengan waktu berakhirnya dan
waktunya panjang, contohnya ibadah haji.
6. Wajib ain = wajib yang dibebankan kepada
setiap individu, tidak dapat diwakilkan oleh atau kepada orang lain.
7. Wjib Kifayai = wajib yang dibebankan
kepada sebagian individu, bila sebagian individu sudah menunaikan maka gugur
kewajiban individu yang lain, contoh : mengurus jenazah.
8. Wajib Muhaddad = wajib yang ditentukan
kadarnya, contoh : zakat.
9. Wajib Ghairu Muhaddad = wajib yang tidak
ditentukan kadarnya, contoh : sedekah, wakaf.
10. Wajib Muaiyin = wajib yang ditentukan
zatnya , contoh : membaca Al Fatihah dalam shalat.
11. Wajib Mukhaiyar = wajib yang diberi
kebebasan memilih, contoh = kafarah sumpah.
12. Wajib Muaddaa = Wajib yang ditunaikan
dalam waktunya adaan.
13. Wajib Maqdi = wajibn yang ditunaikan
sesudah lewat waktunya qadaan.
14. Wajib Muaad = wajib yang dikerjakan
mengulang karena kurang sempurnanya yang ditunaikan pertama.
B. Sunnat
Yaitu bila dikerjakan mendapat pahala dan
bila ditinggalkan tidak berdosa.
Pembagian Sunnat :
1. Sunnat Hadyin = sunnat untuk
menyempurnakan kewajiban-kewajiban agama, contoh : azan dan jamaah.
2. Sunnat Zaidah = sunnat yang dikerjakan
Nabi dalam urusan adat kebiasaan, contoh : makan, minum, adat, kesukaan Nabi
yang bagus bila ditiru dan tidak dicela bila ditinggalkan.
3. Sunnat Muakkadah = sunnat yang sering
dikerjakan Nabi (jarang ditinggalkan), contoh : shalat sunnat rawatib, shalat
tahajud.
4. Sunnat Ghairu Muakkadah = sunnat yang
kadang ditinggalkan oleh Nabi, contoh : shalat sunnat 4 rakaat sebelum duhur.
C. Mubah
Yaitu sesuatu yang dibolehkan, boleh dikerjakan
dan boleh ditinggalkan.
Catatan untuk perkara yang mubah :
1. Jangan berlebihan.
2. Jangan membuat perkara baru (bidah) dalam
agama yang tanpa ada contoh atau tanpa ada maslahatnya dalam urusan dunia atau
tidak menjadi sarana kemaslahatan yang lain.
3. Jangan sibuk dengan perkara yang mubah
sehingga melalaikan dari akhirat.
D. Makruh
Yaitu bila dikerjakan tidak dicela, tetapi
bila ditinggalkan terpuji.
Pembagian Makruh :
1. Makruh Tanzih = makruh yang tidak dicela
bila dikerjakan, tetapi terpuji bila ditinggalkan, contoh : merokok, makan
jengkol, shalat di akhir waktu.
2. Makruh Tahrim = makruh yang dekat kepada
haram, yaitu haram yang dalilnya belum qathi (pasti) yaitu dari hadits ahad.
E. Haram
Yaitu bila dikerjakan mendapat dosa,
contohnya : meninggalkan shalat lima waktu, makan daging babi.
VIII. Obyek Hukum (Mahkum Fih) dan Subyek
Hukum (Mahkum Alaih)
Obyek hukum dalam fiqih adalah beban
pekerjaan kepada para mukallaf (orang dewasa dan berakal sejahtera yang
terkenan beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat :
a. Mungkin terjadi / bukan yang mustahil
terjadi.
b. Sanggup dikerjakan.
c. Dapat dibedakan.
d. Diketahui berdasarkan dalil.
e. Untuk melaksanakan taat (ibadah).
Subyek hukum adalah para mukallaf (orang yang
dibebani hukum). Seseorang mendapat beban taklif (beban hukum) apabila memenuhi
beberapa syarat :
a. Memahami perintah (beban hukum) yang
dibebankan kepadanya.
b. Baligh (dewasa).
c. Berakal (sadar dan waras).
Halangan halangan :
1. Gila
2. Setengah gila
3. Lupa
4. Tidur
5. Pingsan
6. Mabuk
7. Sakit, halangan untuk puasa, shalat dengan
berdiri.
8. Haid
9. Nifas
10. Mati
11. Safar (bepergian), halangan untuk
wajibnya shalat jumat
12. Silap (tidak sengaja)
13. Paksaan
14. Hujan, halangan untuk shalat berjamaah.
15. Tua renta pikun.
IX. Ushul Fiqih
A. Pengertian
Ushul fiqih adalah kaidah kaidah dan
metodologi dasar yang digunakan untuk istinbath (mengeluarkan) hukum dari
sumbernya yang berupa dalil-dalil yang tafshili (jelas).
Macam-macam dalil :
A. Dalil naqli (teks) :
1. Al-Quran
2. Sunnah (Hadits)
B. Ijma (konsensus)
C. Dalil aqli (akal)
1. Qiyas
2. Istihsan
3. Maslahah Mursalah
4. Dan lain-lain.
Firman Allah dalam QS An Nisa [4] : 59
Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan
Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Maka jika kamu berselisih dalam
suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya.
Taatilah Allah merujuk kepada Al-Quran.
Taatilah Rasul merujuk kepada sunnah (hadits)
dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu
merujuk kepada Ijma (konsensus) ulil-amri.
Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya
merujuk kepada Qiyas, maksudnya bandingkanlah dengan yang dekat dan serupa
dengan yang telah ada pada Al-Quran dan atau Hadits, pelajari qarinah
(petunjuk) hikmah syariat didalamnya, dsb.
Firman Allah dalam QS An-Nahl : 44
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran agar kamu
menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar
mereka berpikir.
Ayat diatas dengan jelas Allah memerintahkan
umat Islam menggunakan akalnya untuk memikirkan Al-Quran, yaitu menggunakan
segala daya upaya kemampuan berpikir untuk ber ijtihad menyimpulkan hukum fiqih
dari ayat-ayat Al-Quran yang tersurat (eksplisit-tekstual) maupun yang tersirat
(implisit-kontekstual).
Hadits Nabi :
Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal, bahwa
Rasulullah tatkala mengutus Muadz sebagai qadli (hakim) di Yaman, beliau
bertanya : Bagaimana kamu akan memutuskan hukum jika menghadapi kasus ? Muadz
menjawab : Saya akan memutuskan dengan apa yang ada pada kitab Allah.
Rasulullah bertanya lagi : jika tidak didapat di Kitab Allah ? Muadz menjawab :
Maka aku putuskan dengan sunnah Rasulullah SAW. Rasulullah kembali bertanya :
Jika tidak terdapat pada Sunnah Rasulullah ? Muadz akhirnya menjawab : Ajtahidur
rayi Saya akan ber ijtihad dengan akal-pikiran saya, saya tidak
putus asa. Muadz berkata : Lalu Rasulullah menepuk dadaku, seraya bertahmid :
Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasul-nya yang
diridhoi oleh-Nya. (HR Abu Dawud).
Hadits Muadz diatas juga menunjukkan ijtihad
dengan akal dibolehkan oleh Rasulullah dan diridloi oleh Allah, tapi dengan
catatan ijtihad dengan akal baru digunakan bila tidak ditemukan dalil pada
Al-Quran dan Hadits.
B. Sumber Hukum Pimer
1. Al-Quran
Al-Quran adalah sumber hukum primer yang
pertama, Dalil yang berupa ayat-ayat Al-Quran bersifat qathi (pasti) wurudnya
(sumbernya) yaitu berupa khabar yang sampai kepada kita dengan cara yang
mutawatir dan dijamin terpelihara penukilannya. Sedangkan dhalalah
(petunjuk lafazhnya) ada yang qathi yaitu yang sharih (jelas) sehingga
semua ulama menyepakati maknanya dan ada yang masih menimbulkan perbedaan
pendapat dalam menafsirkan maknanya. (Baca kembali meteri Ushul Tafsir tentang
muhkam-mutasyabih, mantuq-mafhum, am-khas, mutlaq-muayyad, mujmal-mufassar,
makna hakikat-majaz-musytarak).
2. Sunnah (Hadits)
Hadits nabi merupakan sumber hukum primer
kedua, Peranan Hadits terhadap Al-Quran adalah sbb :
1. Memperkuat hukum yang ada di Al-Quran.
2. Menerangkan (bayan) hukum yang disebutkan
dalam dalam Al-Quran.
3. Merinci hukum yang disebutkan dalam dalam
Al-Quran.
4. Mentakhsish (meng khususkan) dari
ketentuan yang umum dari Al-Quran.
5. Menghapus (nasakh) hukum yang ada di
Al-Quran.
6. Melengkapi hukum yang belum ada di
Al-Quran.
Hadist nabi yang mutawatir (banyak jalan
sanadnya) dan sahih maka dalilnya bersifat Qathi (pasti) wurudnya (sumbernya).
Sedangkan hadits ahad (jalan sanadnya tidak mencapai derajad mutawatir) dan
masih diperselisihkan ke sahihannya oleh para ulama hadits maka dalilnya
bersifat dzanni (dugaan) wurudnya (Baca kembali meteri Ilmu Hadits tentang
mushthalah hadits dan mukhtaliful hadits).
Demikian pula dhalalah (petunjuk lafazh) nya,
bila maknanya sharih dan tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama maka qathi
pula dhalalahnya. Tapi bila ada perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai
maknanya maka menjadi dzunni dhalalahnya.
C. Istinbath hukum dari dalil Al-Quran dan
Hadits
1. Kejelasan makna lafazh
Tingkat kekuatan kejelasan lafazh dalil yang
jelas, terdiri atas :
a. Zhahir, paling rendah tingkat kejelasannya.
Masih memungkinkan adanya makna lain (ihtimal).
Contoh zhahir seperti pada ayat :
Dan jika kamu takut akan dapat berlaku adil
terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim, (bilamana kamu mengawininya), maka
kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat.
Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.
(QS An-Nisa : 3).
Dari segi zhahir lafazh ayat membolehkan
poligami maksimal sampai empat orang istri dengan syarat harus berlaku adil.
Namun lafadz zhahir masih memungkinkan menerima adanya takhshis (pengkhususan),
tawil dan nasakh.
b. Nash, lebih jelas dari zhahir karena tidak
menerima kemungkinan makna lain (ihtimal).
Contoh nash seperti pada ayat :
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang
berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan
janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama
Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat.
(QS An-Nur : 2).
Hukum hudud dera seratus kali menunjukkan
bilangan yang pasti tidak kurang tidak lebih dari seratus yang tidak menerima
kemungkinan jumlah yang lain.
c. Mufassar, lebih jelas dari nash, karena
ada dalil yang menafsirkan secara detail lafazh yang sebelumnya masih mujmal
(global).
Perhatikan firman Allah :
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang
mencuri, potonglah tangan keduanya . (QS Al-Maidah [3] : 38).
Ayat diatas masih bersifat mujmal (global)
yang kemudian datang hadits nabi yang menafsirkannya sehingga menjadi mufassar
(ditafsirkan), hadits yang menafsirkan ketentuan potong tangan bagi pencuri
adalah :
tidak dikenakan hukuman potong tangan,
pencurian terhadap mayang kurma, tidak pula pencuri buah-buahan.
Tidak dikenakan hukuman potong tangan,
pencurian yang kurang dari 10 dirham.
Demikian juga tidak dilakukan hukum potong
tangan bagi prajurit yang mencuri dalam pererangan dan Khalifah Umar menetapkan
tidak menerapkan hukum potong tangan pada pencurian ketika musim paceklik dan
kelaparan.
Dalil yang mufassar tidak mempunyai
kemungkinan makna lain kecuali berupa nasakh.
d. Muhkam, paling jelas karena tidak menerima
kemungkinan makna lain (ihtimal) baik itu berupa takhsis, tawil maupun nasakh,
seperti firman Allah :
Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka
buat selama-lamanya. (QS An-nur : 4).
Demikian juga hadits nabi :
Jihad itu terus menerus sampai hari
kiamat.
Sedangkan lafazh yang tidak jelas maknanya,
terdiri atas :
a. Al-Khafi, maknanya tidak jelas pada
sebagian pengertian cakupan makna yang dimaksud (maudlul).
Hadits nabi : Orang yang membunuh itu
tidak berhak mendapat warisan.
Lafazh qatil (pembunuh) dari segi arti maupun
sasaran adalah pembunuhan yang sengaja. Maka bagaimana halnya dengan pembunuhan
karena tidak sengaja, apakah pembunuh yang tidak sengaja juga tidak berhak
mendapat warisan ? Disini terjadi perbedaan pendapat dikalangan para Imam
mazhab.
Contoh lain yaitu lafazh sariq pencuri maka
pengertian umumnya adalah orang yang secara sembunyi-sembunyi mengambil harta
orang lain yang tersimpan. Maka pencopet (ath-tharar) apakah termasuk katagori
pencuri atau bukan, karena pencopet mencuri dengan terang-terangan tidak
sembunyi-sembunyi sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau
tidak.
Demikian juga pencuri kain kafan (nabbasy)
apakah termasuk kategori pencuri (sariq) atau bukan, karena pencuri kain kafan
mencuri barang yang bukan milik orang yang hidup dan tentunya juga bukan hak
milik si mayat sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak.
Imam Abu Hanifah dan Muhammad Hasan Asy
Syaibani tidak memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan dalam katagori
pencuri yang harus dihukum potong tangan. Sedangkan Imam Abu Yusuf, Imam
Syafii, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan pencopet dan pencuri kain
kafan termasuk pencuri yang harus dihukum potong tangan.
b. Al-Musykil yaitu lafazh yang maknanya
samar karena sebab pada lafazh itu sendiri. Contohnya lafazh yang musytarak
(punya lebih dari satu arti). Contohnya kata ain, kata ini mengandung beberapa
makna bisa berarti : mata, mata air, esensi zat dan mata-mata (intel). Lafazh
musykil harus diperhatikan dalam konteks apa kata itu dirangkai dengan kata
yang lain menjadi kalimat dengan pengertian yang tepat dan harus dicari
perbandingannya dari dalil-dalil yang lain yang dapat membantu penafsirannya.
c. Mujmal (global) yaitu lafazh yang maknanya
mengandung cakupan dan kemungkinan yang luas yang banyak yang tidak mungkin
diketahui secara pasti kecuali melalui dalil lain yang menjelaskan sehingga
yang mujmal tersebut menjadi terjelaskan (mubayyan).
Contohya tentang perintah sholat dan manasik
haji, kedua lafazh itu masih mujmal maka dari dalil beberapa hadits yang berupa
perkataan dan contoh perbuatan nabi yang menjelaskan detail tata cara sholat
dan haji .
d. Mutasyabih yaitu
lafazh yang sangat samar maknanya, sangat sulit bahkan ada yang tidak mungkin
dipahami maknanya oleh akal ulama sekalipun dan hanya Allah yang tahu
maknanya. contoh ayat-ayat yang mutasyabih adalah :
1. Ayat-ayat mansukh (yang dihapus) dan tidak
diberlakukan hukumnya atau telah dihapus lafadznya dari mushaf.
2. Ayat-ayat yang mengandung kata-kata yang
sulit dipahami maksudnya.
Riwayat Abu Ubaid, dari Anas : Khalifah
Umar pernah membaca ayat, wafakihatan wa abban Dan buah-buahan dan
rumput-rumputan (QS Abasa [80] : 31), lalu ia berkata : Kalau buah-buahan ini
kami telah mengetahui, tetapi apakah yang dimaksud al-ab ?, kemudian Umar
berkata kepada dirinya sendiri : Hai Umar, sesungguhnya apa yang kamu lakukan
itu benar-benar suatu perbuatan memaksakan diri.
Riwayat lain dari Muhammad bin Sad dari Anas
: Umar berkata kepada dirinya sendiri : Ini hal yang dipaksakan, tiada dosa
bagimu bila tidak mengetahui.
3. Ayat-ayat tentang Asma Allah dan
sifat-sifatNya yang menyerupai sifat mahkluk, contoh : Allah Maha Melihat, Maha
Mendengar, Maha Mengetahui, Maha Berfirman (Kalam), Maha Hidup, dsb.
4. Ayat-ayat tentang perbuatan Allah yang
menyerupai perbuatan mahkluk, contoh : Allah bersemayam diatas Arsy, Allah
turun ke langit dunia, Allah melempar, dan datang lah Tuhanmu, dsb
5. Ayat-ayat tentang anggota tubuh Allah,
contoh : Segala sesuatu pasti binasa kecuali wajahNya, tangan Allah diatas
tangan mereka, dsb
6. Hakikat sebenarnya tentang ayat-ayat
metafisika (ruh, alam jin, alam malaikat, alam kubur, surga-neraka, akhirat).
7. Huruf-huruf
hijaiyah pada awal surat (huruf muqattaah).
Yang perlu diingat
bahwa ayat-ayat mengenai taklif (beban kewajiban) dan yang memuat
ketentuan-ketentuan hukum yang merupakan sendi syariat Islam didalamnya tidak
ada yang mutasyabih.
(Baca kembali Ushul
Tafsir Point VI tentang Muhkam Mutasyabih)
2. Petunjuk Lafazh (dhalalah)
A. Mantuq yaitu makna berdasarkan bunyi
eksplisit yang tersurat (tekstual)
B. Mafhum yaitu makna berdasarkan pemahaman
implisit yang tersurat (kontekstual).
A. Mantuq
Mantuq adalah makna lahir yang tersurat
(eksplisit) yang tidak mengandung kemungkinan pengertian ke makna yang lain.
Mantuq terdiri atas 5 (lima) kategori :
1. Nash, ialah lafazh yang bentuknya sendiri
telah dapat menunjukkan makna yang dimaksud secara jelas (sharih), tidak
mengandung kemungkinan makna lain. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 196 :
Maka (wajib) berpuasa tiga hari dalam masa
haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali,
itulah sepuluh (hari) yang sempurna.
Penyifatan sepuluh dengan sempurna telah
mematahkan kemungkinan Sepuluh ini diartikan lain secara majaz (kiasan). Inilah
yang dimaksud dengan nash.
2. Zahir, ialah lafazh yang menunjukkan
sesuatu makna yang segera dipahami ketika ia diucapkan tetapi disertai
kemungkinan makna lain yang lemah (marjuh). Jadi zahir itu sama dengan nash
dalam hal petunjuk lafazhnya kepada bunyi yang tersurat. Namun dari segi lain
ia berbeda dengan nash, karena zahir masih disertai kemungkinan menerima makna
lain meskipun lemah. Misalnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 173 famanidlthurro
ghaira baghi wa la ad. Lafazh al-bagh digunakan untuk makna al-jahil (bodoh,
tidak tahu) dan az-zalim (melampaui batas, zalim). Tetapi pemakaian untuki
makna kedua lebih tegas dan populer sehingga makna inilah yang kuat (rajih),
sedang makna yang pertama lemah (marjuh), Juga dalam QS Al-Baqarah [2] : 222 :
Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum
mereka bersuci .
Berhenti haid dinamakan suci (tuhr), berwudhu
dan mandi pun disebut tuhr. Namun penunjukan kata tuhr kepada makna kedua
(mandi) lebih tepat, jelas (zahir) sehingga itulah makna yang rajih (kuat),
sedangkan penunjukan kepada makna yang pertama (berhenti haid) adalah marjuh
(lemah).
3. Muawwal, adalah lafazh yang diartikan
dengan makna marjuh karena ada sesuatu dalil yang menghalangi dimaksudkannya
makna yang lebih rajih. Muawwal berbeda dengan zahir; zahir diartikan dengan
makna yang rajih sebab tidak ada dalil yang memalingkannya kepada yang marjuh,
sedangkan muawwal diartikan dengan makna marjuh karena ada dalil yang
memalingkannya dari makna rajih. Akan tetapi masing-masing kedua makna ini
ditunjukkan oleh lafazh menurut bunyi ucapan yang tersurat. Misalnya dalam QS
rendahkan SAYAP
4. Dalalah istida adalah kebenaran petunjuk
(dalalah) lafazh kepada makna yang tepat terkadang bergantung pada sesuatu yang
tidak disebutkan. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] ; 184 :
Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau
dalam perjalanan, maka (wajiblah berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada
hari-hari yang lain.
Ayat ini memerlukan suatu lafazh yang tidak
disebutkan yaitu lalu ia berbuka, sebab kewajiban qada puasa bagi musafir itu
hanya apabila ia berbuka dalam perjalanannya itu. Sedangkan jika ia tetap
berpuasa maka baginya tidak ada kewajiban qada. Contoh yang lain pada QS
An-Nisa [4] : 23 :
Diharamkan atas kamu ibu-ibumu
Ayat ini memerlukan adanya adanya kata-kata
yang tidak disebutkan, yaitu kata bersenggama, sehingga maknanya yang tepat
adalah diharamkan atas kamu (bersenggama) dengan ibu-ibumu.
5. Dalalah Isyarah adalah kebenaran petunjuk
(dalalah) lafazh kepada makna yang tepat berdasarkan kepada isyarat lafazh.
Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] ; 187 :
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan
puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu dan kamu
pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat
menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu.
Maka sekarang campurilah mereka dan ikutiah apa yang telah ditetapkan Allah
untukmu, dan makan minumlah hingga jelas bagi kamu benang putih dari benang
hitam, yaitu fajar
Ayat ini menunjukkan sahnya puasa bagi
orang-orang yang pagi-pagi hari masih dalam keadaan junub, sebab ayat ini
membolehkan berc ampur sampai dengan terbit fajar sehingga tidak ada kesempatan
untuk mandi. Keadaan demikian menuntut atau memaksa kita berpagi dalam keadaan
junub. Membolehkan melakukan penyebab sesuatu berarti membolehkan pula
melakukan sesuatu itu. Maka membolehkan bercampur sampai pada bagian waktu
terakhir dari malam yang tidak ada lagi kesempatan untuk mandi sebelum terbit
fajar, berarti membolehkan juga berpagi dalam keadaan junub.
B. Mafhum
Mafhum adalah makna yang ditunjukkan oleh
lafazah tidak berdasarkan pada bunyi ucapan yang tersurat, melainkan
berdasarkan pada pemahaman yang tersirat.
Mafhum terdiri atas 2 (dua) jenis :
a. Mafhum muwafaqah (perbandingan sepadan),
yaitu makna yang hukumnya sepadan dengan mantuq, terdiri dari :
1. Fahwal khitab, yaitu apabila makna yang
dipahami itu lebih harus diambil hukumnbya daripada mantuq. Misalnya pada QS
Al-Isra [17] : 23 :
Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya (orang tua) perkataan ah .
Ayat ini mengharamkan perkataan ah yang
tentunya akan menyakiti hati kedua orang tua, maka dengan pemahaman
perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah), perbuatan lain seperti mencaci-maki,
memukul lebih diharamkan lagi, walaupun tidak disebutkan dalam teks ayat.
2. Lahnul Khitab, yaitu apabila mafhum sama
nilainya dengan hukum mantuq. Misalnya pada QS An-Nisa [4] : 10 :
Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta
anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya
Ayat ini melarang memakan harta anak yatim,
maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah), perbuatan lain
seperti : membakar, menyia-nyiakan, merusak, menterlantarkan harta anak yatim
juga diharamkan.
b. Mafhum Mukhalafah (perbandingan terbalik),
yaitu makna yang hukumnya kebalikan dari mantuq, terdiri dari :
1. Mafhum sifat, yang dimaksud adalah sifat
manawi, contohnya pada QS Al-Hujurat [49] : 6 :
Hai orang-orang yang beriman, jika datang
kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti
Ayat ini memerintahkan bertabayun (memeriksa,
meneliti) berita yang dibawa oleh orang fasik. Maka dengan pemahaman
perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) bahwa berita yang dibawa oleh orang
yang tidak fasik tidak perlu diperiksa, diteliti. Ini berarti berita dari orang
yang adil dan tsiqoh wajib diterima.
2. Mafhum syarat, yaitu memperhatikan
syaratnya. Contohnya seperti pada QS At-Talaq [65] : 6 :
Dan jika mereka (istri-istri yang sudah
ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkah.
Dengan pemahaman perbandingan terbalik
(mafhum mukhalafah) berarti istri yang ditalak tidak sedang dalam keadaan
hamil, tidak wajib diberi nafkah.
3. Mafhum gayah (maksimalitas), misalnya pada
QS Al-Baqarah [2] : 230 :
Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah
talak kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga ia kawin
dengan suami yang lain
Dengan pemahaman terbalik, maka bila mantan
istri yang sudah ditalak tiga kali kemudian menikah lagi dengan lelaki lain dan
kemudian bercerai maka menjadi halal dikawin lagi.
4. Mafhum hasr (pembatasan, hanya), misalnya
pada QS Al-Fatihah [1] : 5 :
Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada
Engkaulah kami memohon pertolongan
Dengan pemahaman terbalik maka tidak boleh
menyembah selain Allah dan tidak boleh memohon pertolongan kepada selain Allah.
Berhujjah dengan Mafhum :
a. Ulama-ulama Hanafiah, menolak berhujjah
dengan mafhum mukhalafah (perbandingan terbalik).
b. Ulama Hanafiyah dan Syafiiyah tidak
memakai mafhum laqab.
3. Cakupan Lafazh
A. Am (umum) Khas (khusus)
Lafazh Am (umum)
Adalah lafazh yang maknanya luas meliputi
satuan-satuan (juziyah) yang relevan dengan cakupan makna itu tanpa batas.
Allah berfirman dalam QS Al-Ankabut [29] : 33
:
Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan
keluargamu.
Berdasarkan keumuman lafazh keluarga pada
firman Allah diatas yang maka Nabi Nuh menagih janji Allah ketika banjir telah
melanda dengan memohon kepada Allah agar menyelamatkan anaknya yang termasuk
keluarganya, hal itu dapat kita lihat pada QS Hud [11] : 45 :
Dan nuh berseru kepada Tuhannya seraya
berkata : Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasukkeluargaku dan sesungguhnya
janji Engkau adalah benar.
Kemudian Allah menjawab permohonan nabi Nuh
tersebut pada ayat lanjutannya, yaitu QS Hud [11] : 46 :
Allah berfirman, Hai Nuh, sesungguhnya ia
tidak termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan).
Jawaban Allah ini mengecualikan anaknya dari
keumuman kata keluargamu yang dijanjikan akan diselamatkan.
Aneka Ragam bentuk Am :
1. Lafazh man (siapa), ma (apa saja), aina
dan mata (kapan); yang terdapat dalam suatu kalimat tanya (istifham) :
2. Lafazh ma (apa saja) dan man (siapa) yang
mendapat jaminan balasan, seperti :
a. QS Al-Baqarah [2] : 272 :
Dan apa saja harta yang baik yang kamu
nafkahkan (dijalan Allah), niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup
sedang kamu tidak sedikitpun dianiaya.
b. QS An-Nisa [4] : 123
Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan,
niscaya akan diberi pembalasan (sesuai) dengan kejahatan itu.
3. Lafazh kullun (tiap-tiap) dan jamiun
(seluruh)
a. QS Ali Imran [3] : 185 :
Tiap-tiap yang berjiwa akan mengalami mati.
b. QS Al-Baqarah [2] : 29 :
Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada
di bumi untuk kamu.
4. Lafazh ayyun (mana saja) yang terdapat
pada kalimat yang bersifat syarat.
Contohnya pada QS Al-Isra [17] : 110 :
Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia
mempunyai nama-nama yang baik.
5. Lafazh yang bersifat nakirah yang terdapat
dalam susunan kalimat yang bersifat negatif (nahi) atau dalam susunan larangan
(nahi). Contohnya pada QS Al Bawarah [2] : 48 :
a. QS Al-Baqarah [2] : 48 :
Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat,
yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun.
b. QS Al-Isra [17] : 23 :
Maka, sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka.
6. Lafazh masyara, maasyira, ammah, qatibah
dan sairun :
a. QS Al-Anam [6] : 130 :
Hai golongan jin dan manusia, apakah belum
datang kepadamu Rasul-Rasul Kami dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan
ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari
ini ?
b. QS At-Taubah [9] : 36 :
Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya,
sebagaimana mereka pun telah memerangi kamu semuanya.
7. Isim berbentuk jama yang diawali alif dan
lam.
Contohnya pada QS Al-Maidah [5] : 42 :
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
berbuat baik.
8. Isim yang dinisbatkan (mudhaf)
Contohnya pada QS Ibrahim [14] : 34 :
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah,
tidaklah dapat kamu menghitungnya.
9. Isim-isim yang berfungsi sebagai
penyambung (al-maushulah) seperti ladzi, al-lati, al-ladzina, al-lati dan dzu.
Contohnya pada QS An-Nisa [4] : 10 :
Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta
anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya.
10. Amr (perintah) dengan bentuk jama
(plural)
Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 43 :
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan
rukulah beserta orang-orang yang ruku .
Macam-macam penggunaan lafazh am (umum) :
a. Am yang tetap dimaksudkan untuk
keumumannya, contohnya pada QS Al-Kahfi [18] : 49 :
Dan tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun.
Kata ahadan tak seorangpun bersifat umum
tanpa ada kemungkinan peng khususan.
QS An-Nisa [4] : 23 :
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu.
Kata ummhat ibu-ibumu bersifat umum tanpa ada
kemungkinan peng khususan.
b. Am tetapi yang dimaksudkan adalah khas
(khusus)
Contohnya pada QS Ali Imran [3] : 39 :
Kemudian malaikat memanggilnya (zakariya),
sedang ia tengah berdiri bersembahyang di mihrab.
Lafazh malaikat pada ayat diatas adalah umum
tapi yang dimaksud adalah khusus, yaitu Jibril.
c. Am yang mendapat peng-khususan
Contohnya QS Ali-Imran [3] : 97 :
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia
terhadap Allah.
Ayat itu umum untuk semua manusia, tapi di
ayat yang lain ada peng khususan yaitu bagi yang mampu.
Lafazh Khas (khusus) dan Takhsis
(pengkhususan)
Khas merupakan kebalikan dari Am, yaitu
lafazh yang hanya mengandung satu satuan (juziyah) makna.
Takhsis adalah mengeluarkan sebagian
kandungan yang dicakup oleh makna lafazh yang umum.
Macam-macam Mukhashshis (peng khusus).
1. Mukhashshish Muttashil (peng khusus yang
bersambung)
a. Istitsna (pengecualian), contohnya pada QS
An-nur [24] : 4-5 :
Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita
yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi,
maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah
kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang
yang fasik, kecuali orang-orang yang bertaubat
b. Sifat, contohnya pada QS An-Nisa [4] : 23
:
(Dan diharamkan bagi kamu untuk mengawini)
anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu, yaitu istrimu (itu) telah kamu
campuri.
Anak tiri haram dinikahi, yaitu yang ibunya
(yang menjadi istri) telah disetubuhi. Bila belum disetubuhi kemudian bercerai,
maka anak tiri itu boleh dikawini.
c. Syarat, contohnya pada QS Al-Baqarah [2] :
180 :
Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang
diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang
banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabat secara maruf, (ini
adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa.
Kalimat jika ia meninggalkan harta yang
banyak adalah syarat, maka bila seseorang tidak meninggalkan harta yang banyak,
maka tidak wajib berwasiat.
d. Batas, contohnya dalam QS Al-Baqarah [2] :
196 :
Dan janganlah kamu mencukur kepalamu, sebelum
kurban sampai ditempat penyembelihannya.
Kalimat sebelum kurban sampai ditempat
penyembelihan merupakan batas larangan mencukur rambut kepala saat haji.
e. Mengganti sebagian dari keseluruhannya,
contohnya pada QS Ali-Imran [3] : 97 :
Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban
manusia yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya.
2. Mukhashshish Munfashil , yaitu peng khusus
yang berada di tempat lain;
a. Ayat Al-Quran yang lain.
QS Al-Baqarah [2] : 228 :
Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan
diri (ber iddah) tiga kali quru.
Ayat tersebut bersifat umum, berlaku bagi
setiap wanita yang dicerai, baik yang sedang hamil maupun tidak dan yang telah
dicampuri. Kemudian ayat ini ditakhsis oleh dua ayat (mukhashshish) yang lain,
yaitu :
QS Ath-Thalaq [65] : 4 :
Dan perempuan-perempuan yang sedang hamil,
waktu iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.
Mukhashshish kedua, QS Al-Ahzab [33] : 49 :
Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan
yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya, maka
sekali-kali tidak wajib atas mereka iddah bagimu yang kamu minta
menyempurnakannya.
b. Hadits (men takhsis Al-Quran dengan
hadits), contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 275 :
Dan Allah menghalalkan jual-beli dan
mengharamkan riba.
Dikecualikan dari jual-beli adalah jual-beli
yang buruk seperti tersebut pada hadits berikut :
Dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah saw
melarang mengambil upah dari persetubuhan binatang jantan dengan binatang yang
lain.
(HR Bukhari).
Dalam riwayat lain disebutkan :
Dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah saw
melarang jual-beli (binatang) yang akan dikandung oleh yang (sekarang masih)
didalam kandungan. Yang demikian itu adalah jual-beli yang dilakukan oleh kaum jahiliyyah,
yaitu seseorang membeli binatang sembelihan (dengan bayar tempo) sampai unta
itu beranak dan anak onta itu beranak pula. (HR Muttafaqun alaihi).
c. Ijma (men takhsis Al-quran dengan Ijma).
Contohnya pada QS An-Nisa [4] : 11 :
Allah mensyariatkan bgimu tentang (pembagian
pusaka untuk) anak-anakmu, yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan
bagian dua anak perempuan.
Ayat tersebut dikecualikan secara ijma bagi
laki-laki yang berstatus budak.
d. Qiyas (men takhsis Al-Quran dengan Qiyas)
Contohnya QS An-nur [24] : 2 :
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang
berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.
Ayat tersebut dikecualikan bagi budak dengan
dasar analogi terhadap perempuan yang berstatus budak yang dikecualikan dari
ketentuan hukum dera bagi perempuan-perempuan yang berbuat fahisyah sebagaimana
tersebut dalam QS An-nisa [4] : 25 :
Jika mereka mengerjakan perbuatan keji, maka
atas mereka setengah hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami.
e. Akal (men takhsis Al-Quran dengan akal)
Contohnya pada QS Ar-Radu [13] : 6 :
Allah adalah pencipta segala sesuatu.
Akal menetapkan bahwa Allah bukan pencipta
bagi diriNya sendiri.
f. Indera (men takhsis Al-Quran dengan
indera)
Contohnya : QS An-Naml [27] : 23 :
Sesungguhnya aku menjumpai seseorang wanita
yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu, serta mempunyai
singgasana yang besar.
Indera kita menetapakan segala sesuatu yang
dianugerahkan kepada wanita (Ratu Balqis) tidak seperti yang dianugerahkan kepada
Nabi Sulaiman.
g. Siyaq (Mentakshis Al-Quran dengan siyaq)
Siyaq adalah keterangan yang mendahului suatu
kalam dan yang datang sesudahnya.
Contohnya takhsis dengan siyaq adalah seperti
pada QS Al-Araf [7] : 163 :
Dan tanyakanlah kepada mereka (Bani Israil)
tentang kampung yang terletak di dekat laut . ?
Dalam ayat tersebut, dilukiskan bahwa yang
dipertanyakan adalah tentang suatu kampung/desa, Menurut siyaqul kalam bahwa
yang dimaksud dengan desa itu adalah penduduknya.
Hukum lafazh am, khas dan takhsis :
1. Apabila didalam ayat Al-Quran terdapat
lafazh yang bersifat khas (khusus), maka maknanya dapat menetapkan sebuah hukum
secara pasti, selama tidak terdapat dalil yang mentawilkannya dan menghendaki
makna lain.
2. Apabila lafazh itu bersifat am (umum) dan
tidak terdapat dalil yang meng-khususkannya (men-takhsis-nya), maka lafazh
tersebut wajib diartikan kepada ke umumannya dan memberlakukan hukumnya bagi
semua satuan yang dicakup makna itu secara mutlak.
3. Apabila lafazh itu bersifat umum dan terdapat
dalil yang men takhsis nya, maka lafazh itu hendaknya diartikan kepada satuan
makna yang telah dikhususkannya itu dan satuan yang khusus itu dikeluarkan dari
cakupan makna yang umum tersebut.
4. Takhsis jenis syarat, ghayah dan sifat
tidak dipegangi oleh kelompok yang menolak mafhum.
5. Ulama Hanafiah berpendapat takhsis
Al-Quran dengan hadits hanya bisa oleh hadits mutawatir.
B. Mujmal (global) Mubayyan (terjelaskan)
Mufassar (ter-tafsirkan)
Salah satu fungsi hadits adalah sebagai bayan
(menjelaskan) lafazh dalam ayat Al-Quran yang masih mujmal (global). Dengan
adanya penjelasan dari hadits maka lafazh yang mujmal tersebut dapat dipahami
maknanya.
Lafazh mujmal adalah lafazh yang global,
masih membutuhkan penjelasan (bayan) atau penafsiran (tafsir).
Untuk memberikan penjelasan atau penafsiran
terhadap lafazh yang mujmal maka tidak ada jalan lain kecuali harus kembali
kepada syari, karena memang Dia lah yang menjadikannya sebagai lafazh yang
mujmal.
Mubayyan adalah lafazh yang sudah dijelaskan
dari keglobalannya.
Klasifikasi Mubayyan berdasarkan sumber yang
menjelaskannya :
1. Mubayyan Muttashil, adalah mujmal yang
disertai penjelasan yang terdapat dalam satu nash. Misalnya dalam QS An-Nisa
[4] : 176, lafazh kalalah adalah mujmal yang kemudian dijelaskan dalam satu
nash;
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang
kalalah). Katakanlah, Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah, (yaitu)
jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara
perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang
ditinggalkannya dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara
perempuan), jia ia tidak mempunyai anak, tetapi jika saudara perempuan itu dua
orang, maka bagi keudanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang
meninggal. Jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki
dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang
saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak
sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Kalalah adalah orang yang meninggal dunia
yang tidak mempunyai anak. Makna inilah yang diambil oleh Umar bin Khtattab,
yang meyatakan :
Kalalah adalah orang yang tidak mempunyai
anak.
2. Mubayyan Munfashil, adalah bentuk mujmal
yang disertai penjelasan yang tidak terdapat dalam satu nash. Dengan kata lain,
penjelasan tersebut terpisah dari dalil mujmal. Dalam hal ini bisa berupa :
a. Dari ayat Al-Quran yang lain, misalnya
dalam QS Ali Imran [3] : 7 :
Padahal tidak ada yang mengetahui tawilnya
kecuali Allah dan orang yang mendalam ilmunya berkata : Kami beriman kepada
ayat-ayat yang mutasyabih, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.
Kalimat Allah dan orang-orang yang mendalam
ilmunya adalah mujmal karena ambigutias huruf wawu, yaitu kata dan. Bisa
berkonotasi kata penghubung (athaf) atau Kata depan permulaan kalimat baru
(istinaf). Jika kata dan dianggap sebagai kata penghubung, maka konotasi
kalimat tersebut adalah hanya Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya yang
mengetahui takwilnya. Namun, jika kata dan dianggap sebagai permulaan kalimat
baru, maka konotasinya adalah hanya Allah yang mengetahui takwilnya sedangkan
orang-orang yang mendalam ilmunya yang notabene tidak tahu takwilnya- berkata,
kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih. Oleh karena itu, hal ini
memerlukan penjelasan. Maka Penjelasannya tidak terdapat dalam satu nash,
diantaranya firman Allah pada QS An-Nahl [16] : 89 :
Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran)
untuk menjelaskan segala sesuatu.
Ayat ini menunjukkan Al-Quran diturunkan
sebagai penjelasan segala sesuatu kepada manusia, termasuk ayat-ayat yang
mutasyabih. Jadi berdasarkan petunjuk (qarinah) dari ayat ini huruf dan pada QS
Ali-Imran [3] : 7 adalah sebagai kata penghubung sehingga konotasinya adalah
yang mengetahui tawil ayat-ayat mutasyabih hanyalah Allah dan orang-orang yang
mendalam ilmunya.. Demikian pendapat kelompok yang berpendapat demikian.
b. Dari Sunnah (hadits), contohnya pada QS
Al-Anfal [8] : 60 :
Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan
apa saja yang kamu sanggupi
Kata kekuatan pada ayat diatas masih mujmal,
yang penjelasannya ada datang dari sunnah, yaitu hadits riwayat Muslim dari
Uqbah bin Amir :
Saya mendengar Rasulullah bersabda,
-sementara itu beliau masih berada diatas mimbar- Siapkanlah untuk menghadapi
mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi, ingatlah, sesungguhnya kekuatan
itu adalah panah. Ingatlah, sesungguhnya kekuatan itu adalah panah.
Macam-macam bayan (penjelasan) terhadap
lafazh mujmal :
1. Penjelasan dengan perkataan (bayan bil
qaul), contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 196 :
Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang
korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan
tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang
sempurna.
Ayat tersebut merupakan bayan (penjelasan)
terhadap rangkaian kalimat sebelumnya mengenai kewajiban mengganti korban
(menyembelih binatang) bagi orang-orang yang tidak menemukan binatang
sembelihan atau tidak mampu.
2. Penjelasan dengan perbuatan (bayan fili)
Contohnya Rasulullah melakukan
perbuatan-perbuatan yang menjelaskan cara-cara berwudhu : memulai dengan yang
kanan, batas-batas yang dibasuh, Rasulullah mempraktekkan cara-cara haji, dsb.
3. Penjelasan dengan perkataan dan perbuatan
sekaligus
Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 43 :
dan dirikanlah shalat
Perintah mendirikan sholat tersebut
masih kalimat global (mujmal) yang masih butuh penjelasan bagaimana tata cara
sholat yang dimaksud, maka untuk menjelaskannya Rasulullah naik keatas bukit
kemudian melakukan sholat hingga sempurna, lalu bersabda : Sholatlah kalian,
sebagaimana kalian telah melihat aku shalat (HR Bukhary).
4. Penjelasan dengan tulisan
Penjelasan tentang ukuran zakat, yang
dilakukan oleh Rasulullah dengan cara menulis surat (Rasulullah mendiktekannya,
kemudian ditulis oleh para Sahabat) dan dikirimkan kepada petugas zakat beliau.
5. Penjelasan dengan isyarat
Contohnya seperti penjelasan tentang hitungan
hari dalam satu bulan, yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dengan cara isyarat,
yaitu beliau mengangkat kesepuluh jarinya dua kali dan sembilan jari pada yang
ketiga kalinya, yang maksudnya dua puluh sembilan hari.
6. Penjelasan dengan meninggalkan perbuatan
Contohnya seperti Qunut pada shalat. Qunut
pernah dilakukan oleh Rasulullah dalam waktu yang relatif lama, yaitu kurang
lebih satu bulan kemudian beliau meninggalkannya.
7. Penjelasan dengan diam (taqrir).
Yaitu ketika Rasulullah melihat suatu
kejadian, atau Rasulullah mendengar suatu penuturan kejadian tetapi Rasulullah
mendiamkannya (tidak mengomentari atau memberi isyarat melarang), itu artinya
Rasulullah tidak melarangnya. Kalau Rasulullah diam tidak menjawab suatu
pertanyaan, itu artinya Rasulullah masih menunggu turunnya wahyu untuk
menjawabnya.
8. Penjelasan dengan semua pen takhsis (yang
mengkhususkan).
Mufassar (sudah ditafsirkan)
Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan
kepada makna yang terperinci dan tidak ada kemungkinan tawil yang lain baginya.
Apabila datang penjelasan (bayan) dari syari
terhadap lafazh yang mujmal itu dengan bayan yang sempurna lagi tuntas, maka
lafazh yang mujmal tadi menjadi mufassar (ditafsirkan), seperti bayan yang
datang secara rinci terhadap lafazh shalat, zakat, haji dan lainnya.
Macam-macam mufassar :
1. Mufassar oleh zatnya sendiri
Yaitu lafazh yang sighat (bentuk) nya sendiri
telah menunjukkan dalalah (petunjuk) yang jelas kepada makna yang terinci dan
pada lafazh itu terkandung sesuatu yang meniadakan kemungkinan penakwilan
terhadap makna yang lainnya. Contohnya pada QS An-nur [24] : 4 :
Maka deralah mereka (yang menuduh itu)
delapan puluh kali dera.
Kata delapan puluh adalah lafazh mufassar
dimana bilangan tertentu itu tidak mengandung kemungkinan lebih atau kurang.
Contoh lain pada QS At-Taubah [9] : 36 :
Perangilah orang-orang musyrik itu semuanya.
Kata semuanya itu adalah mufassar.
2. Mufassar oleh lafazh lainnya
Yaitu lafazh yang bentuknya global, tidak
terurai, lalu mendapat penjelasan dari nash yang lain secara pasti dan terurai,
sehingga tidak mengandung kemungkinan tawil lagi untuk makna yang lainnya.
Contohnya tentang lafazh : shalat, zakat, shiyam, haji. Kata-kata tersebut
masih global (mujmal), kemudian Rasulullah menjelaskan lafazh-lafazh tersebut
dengan perbuatan dan perkataan sehingga kita memahami artinya seperti yang
sudah kita pahami bersama pengertian dan tata caranya.
C. Mutlaq (tanpa batasan) Muayyad (dengan
batasan)
Mutlaq adalah lafazh yang menunjukkan suatu
hakikat tanpa suatu pembatas (qayid). Contohnya dalam QS Al-Mujadalah [58] : 3
:
Dan orang-orang yang menzihar istri mereka,
kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib
atas mereka) memerdekakan seorang budak .
Lafazh budak diatas tanpa dibatasi, meliputi
segala jenis budak, baik yang mukmin maupun kafir.
Muqayyad adalah lafazh yang menunjukkan suatu
hakikat dengan suatu pembatas (qayid). Contohnya dalam QS An-Nisa [4] :92 :
Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh
seorang mukmin (yang lain) kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Dan barang
siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaknya) ia memerdekakan
seorang budak yang beriman
Lafazh budak diatas dibatasi dengan yang
beriman
Macam-macam mutlaq-muqayyad dan hukumnya
masing-masing :
1. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke
mutlaqannya, selama tidak ada dalil yang meng-qayyid-kannya (membatasinya).
Jadi terdapat dalil yang memberi batasan (qayyid) maka dalil itu dapat
mengalihkan ke mutlaqannya dan menjelaskan pengertiannya.
Contohnya, pada QS An-Nisa [4] : 11 :
(Pembagian harta pusaka) tersebut sesudah dipenuhi
wasiat yang ia buat dan sesudah dibayar hutangnya.
Wasiat yang dimaksud dalamayat diatas
bersifat mutlaq, tidak dibatasi jumlahnya, minimal-maksimalnya, kemudian wasiat
tersebut diberi batasan oleh nash hadits yang menegaskan bahwa, Tidak ada wasiat
lebih dari sepertiga harta pusaka. Oleh sebab itu maka wasiat dalam ayat diatas
menjadi tidak mutlaq lagi dan mesti diartikan dengan wasiat yang kurang dari
batas sepertiga dari harta pusaka.
2. Sebab dan hukumya sama, maka pengetian
lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad.
Contohnya pada QS Al-Maidah [5] : 3 :
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah
dan daging babi.
Lafazh darah pada ayat diatas adalah mutlaq
tanpa ada batasan.
Pada QS Al-Anam [6] : 145 :
Katakanlah, Tidaklah aku peroleh dalam apa
apa yang diwahyukan kepadaku (tentang) suatu (makanan) yang diharamkan bagi
orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang
mengalir atau daging babi.
Lafazh darah pada ayat ini bersifat muqayyad
karena dibatasi dengan lafazh yang mengalir.
Karena ada persamaan hukum dan sebab, maka
lafazh darah yang tersebut pada QS Al-Maidah [5] : 3 yang mutlaq wajib dibawa
(diartikan) ke muayyad, yaitu darah yang mengalir.
3. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya
berbeda, maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya.
a. Sebab sama tapi hukum berbeda : dalam QS
An-Nisa [4] : 43 :
.Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik
(bersih), usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu
Dalam hal tayamum lafazh (mengusap) tangan
adalah mutlaq karena tidak dibatasi.
Namun mengenai wudhu, yaitu dalam QS
Al-Maidah [5] : 6 :
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
hendak mengerjakan shalat, basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku
lafazh (basuhlah) tanganmu sampai dengan siku
adalah muqayyad karena dibatasi sampai dengan siku.
Kedua nash diatas mempunyai sebab yang sama,
yaitu bersuci tapi pada segi hukum terjadi perbedaan yaitu : hukum pada QS
An-Nisa [4] : 43 adalah mengusap tangan, sedangkan hukum pada QS Al-Maidah
[5] : 6 adalah membasuh tangan sampai ke siku.
b. Hukum sama tapi sebab berbeda : pada QS
At-Thalaq [65] : 2 :
Apabila mereka (istri-istrimu) telah
mendekati masa akhir iddahnya, maka rujukilah kepada mereka dengan baik atau
lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang
adil diantara kamu.
Lafazh saksi pada ayat ini mutlaq tidak
dibatasi.
Namun pada QS Al-Baqarah [2] : 282 :
Apabila kamu berhutang piutang untuk waktu
yang tertentu, maka hendaklah kamu menuliskannya dan persaksikanlah dengan dua
orang saksi laki-laki (diantara kamu).
Lafazh saksi pada ayat ini muqayyad karena
dibatasi dengan laki-laki.
Kedua ayat diatas mempunyai persamaan hukum,
yaitu mengadakan dua orang saksi. Tetapi pada segi sebab terjadi perbedaan, sebab
pada QS At-Thalaq [65] : 2 ialah rujuk pada istri sedangkan sebab pada QS
Al-Baqarah [2] : 282 adalah : hutang-piutang.
c. Hukum dan sebab keduanya berbeda : pada QS
Al-Maidah [3] : 38 :
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang
mencuri, potonglah tangan keduanya .
Bila dibandingkan dengan QS Al-Maidah [3] : 6
pada point a diatas, maka sebabnya berbeda, pada ayat ini sebabnya pencurian
dan hukumya juga berbeda, pada ayat ini tentang potong tangan.
Jadi Hukum lafazh mutlaq - muayyad :
- Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya, selama tidak ada dalil yang meng-qayyid-kannya (membatasinya)
- Sebab dan hukumya sama, maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad.
- Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda, maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya.
4. Kaidah Makna Kata
a. Makna Hakikat yaitu makna lahir. Pada
kalimat Singa menerkam rusa pada lehernyta maka kata singa itu bermakna hakikat
yaitu binatang buas.
b. Makna Majaz yaitu makna kiasan. Pada
kalimat Singa padang pasir menerkam musuhnya dengan pedangnya maka kata singa
itu bermakna kiasan untuk seseorang yang dikenal berani.
c. Musytarak yaitu kata yang punya lebih dari
satu makna (ambigu).
Adanya makna hakikat, majaz dan musytarak ini
salah satu penyebab timbulnya perbedaan penafsiran dari para imam mujtahid yang
membawa pada perbedaan pendapat.
(Baca kembali Ushul Tafsir point VIII)
5. Amr (perintah) dan Nahi (larangan)
Lafazh amr (perintah) dapat berdampak hukum :
a. Menunjukkan wajib.
b. Menunjukkan sunah.
c. Menunjukkan suruhan saja.
d. Menunjukkan kebolehan
Larangan (nahi), menurut Imam Syaukani dalam
Irsyadul Fuhul :
a. Larangan karena diri perbuatan, seperti
larangan zina, larangan wanita haid mengerjakan sholat.
b. Larangan karena sesuatu bagian perbuatan,
seperti larangan menjual anak binatang yang masih dalam perut induknya.
c. Larangan lantaran sesuatu sifat yang tidak
dapat lepas, seperti larangan puasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha,
karena sudah menjadi sifat yang melekat pada hari raya untuk makan-minum,
mengadakan jamuan.
d. Laranga karena sesuatu sifat yang tidak
lazim, seperti jual-beli sesuatu sesudah azan sholat Jumat dikumandangkan.
(Baca kembali Ushul Tafsir point VII)
6. Pertentangan dan Kompromi Antar Dalil
a. Taarudl
Yaitu pertentangan antar dalil, berkata Imam
Abdul Wahhab Khallaf :
Apabila bertentangan dua nash pada lahirnya,
wajiblah kita ber-ijtihad untuk menggabungkan dan mengkompromikan antara
keduanya. Jika tak dapat dilakukan hendaklah kita ber-ijtihad untuk mentarjihkan
(menentukan yang lebih kuat) salah satunya. Kalau tak dapat ditarjihkan salah
satunya, tetapi diketahui mana yang terdahulu dan mana yang terkemudian, maka
hendaklah yang terkemudian dipandang menasakh yang terdahulu. Jika tak dapat
diketahui kedua-duanya maka ditangguhkan.
b. Kompromi
Firman Allah pada QS Al-Baqarah : 180
Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang
diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang
banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya yang dekat
Firman Allah pada QS An-Nisa : 11
Allah memerintahkan kepadamu terhadap
anak-anakmu, yaitu : (warisan) bagi lelaki adalah seperti bagian dua wanita ..
Ayat pertama mewajibkan berwasiat bagi orang
yang akan meninggal sedangkan ayat kedua mewajibkan aturan hukum waris bagi
orang yang meninggal. Secara sepintas sepertinya kedua ayat tersebut saling
betentangan padahal tidak, karena bisa dikompromikan, yaitu kewajiban berwasiat
itu apabila meninggalkan harta warisan yang banyak dan maksimal senilai sepertiga
dari hartanya untuk orang-orang yang tidak berhak mendapat warisannya.
Sedangkan hartanya yang tidak termasuk dari yang diwasiatkan harus dibagi
kepada ahli waris sesuai aturan hukum waris dalam syariat Islam.
c. Tarjih
Yaitu bila ada dua dalil yang saling
bertentangan maka ditentukan mana dalil yang lebih kuat (rajih) dan mana yang
lebih lemah (marjuh).
Prinsip-prinsipnya :
1. Al-Quran lebih kuat dari Hadits
2. Hadits Mutawatir lebih kuat dari hadits
Masyhur
3. Hadits Masyhur lebih kuat dari hadits ahad
4. Hadits sahih lebih kuat dari hasan lebih
kuat dari dhaif.
5. Hadits Mutafaq alaih (diriwayatkan Bukhari
dan Muslim) lebih kuat dari Bukhari saja dan atau muslim saja.
6. Hadits Marfu (disandarkan kepada Nabi)
lebih kuat dari hadits mauquf (disandarkan hanya kepada Sahabat)
7. Sanad yang tinggi lebih kuat dari sanad
yang lebih rendah.
8. Apabila berlawanan antara yang
mengharamkan dengan yang memubahkan ditarjihkan yang mengharamkan (untuk
kehati-hatian).
9. Apabila berlawanan anatara yang menghalangi
dengan yang menghendaki, didahulukan yang menghalangi.
10. Mempelajari asbabun nuzul atau asbabul
wurudnya.
(Baca kembali Ilmu Hadits, point Mukhtaliful
Hadits)
d. Nasakh
Apabila tidak dapat dikompromikan atau
ditarjihkan, bila diketahui mana yang datang terdahulu dan mana yang datang
terkemudian, maka dalil yang terkemudian menasakh yang terkemudian.
1. Nasakh Sharih, bila ada penyataan tegas
menyatakan nasakh, seperti pada hadits Nabi SAW :
Aku dahulu melarangmu dari menziarahi kubur,
(maka sekarang) ziarahilah kubur karenaitu mengingatkan kamu kepada akhirat.
2. Nasakh Dlimmy, menetapkan hukum yang
berlawanan dengan hukum sebelumnya.
(Baca kembali Ushul Tafsir point V)
D. Qowaid Fiqiyah (Kaidah Fiqih)
Setiap yang mempelajari ushul fikih akan
menjumpai kaidah fiqih yaitu kalimat singkat berupa kaidah umum yang dipetik
dari Al-Quran dan Hadis yang bersesuaian dengan juziyyah (bagian-bagian) yang
banyak yang dengannya dapat diterapkan hukumnya pada masalah furu (cabang).
Jadi Kaidah Fikih ini akan membantu
menyimpulkan hukum fikih suatu masalah. ulama ushul fikih berkata :
Apabila kaidah-kaidah fikih kokoh terhujam
didada mudah dan lancarlah lidah menuturkan furu (hukum fikih)
Kaidah Fikih Global :
Mengambil maslahat dan menolak masfadat
Kaidah Pokok, ada 5 (lima) yang kepadanya
dapat dikembalikan hampir semua masalah furu yang banyak.
Kaidah Pokok ke-1 : segala sesuatu bergantung
kepada niat
Dasarnya hadis nabi Sesungguhnya segala
amal hanyalah menurut niatnya dan sesungguhnya bagi seseorang itu hanyalah
memperolah apa yang diniatkannya
Kaidah Pokok ke-2 : yang yakin tidak dapat
dihilangkan oleh yang masih ragu
Dasarnya hadis nabi Apabila seorang dari
kamu mendapatkan sesuatu didalam perutnya, kemudian sangsi apakah telah keluar
sesuatu dari perutnya ataukah belum, maka janganlah keluar dari masjid sehingga
mendengar suara atau mendapat bau
Apabila seseorang dari kamu ragu ragu didalam
sholatnya, tidak tahu sudah berapa rokaat yang telah dikerjakan apakah tiga
rokaat atau empat rokaat, maka buanglah keragu-raguan itu dan berpeganglah
kepada apa yang meyakini.
Kaidah Pokok ke-3 : Dalam kesempitan ada
kelapangan
Dasarnya QS Al-Baqoroh :185 : Allah
menghendaki kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendaki kesukaran bagimu.
QS Al-Haj :78 : Dan Dia tidak menjadikan
untuk kamu kesukaran dalam agama Hadis nabi Agama itu mudah, agama yang
disenangi Allah adalah agama yang benar dan mudah
Hadits nabi : Mudahkanlah jangan
dipersukar.
Kaidah Pokok ke-4 : Kemudhorotan harus
dihilangkan
Dasarnya Firman Allah Dan janganlah kamu
sekalian berbuat kerusakan di muka bumi
dan ayat Sesungguhnya Allah tidak suka
kepada orang-orang yang membuat kerusakan
kemudian hadis nabi tidak boleh membuat kemudhorotan
pada diri sendiri dan membuat kemudhorotan pada orang lain
Kaidah Pokok ke-5 : Adat dapat dijadikan
hukum
Dasarnya ayat Dan bergaullah dengan mereka
(manusia) secara patut dan hadis nabi Apa yang dipandang baik oleh kaum
muslimin, maka baik pula disisi Allah
Dari lima kaidah pokok diatas terdapat
ratusan kaidah kaidah cabang yang lain, diantaranya (yang popluer dan sering
digunakan) adalah :
1. Menolak masfadat lebih diutamakan daripada
mengambil manfaat.
2. Mudhorot khusus (kecil) harus ditempuh
untuk menghindarkan mudhorot umum (besar).
3. Bila harus memilih antara dua mudhorot
maka pilih yang paling kecil.
4. Bila untuk melaksanakan yang wajib
memerlukan sarana, maka mengadakan sarana itu juga wajib.
5. Jalan yang menuju haram juga haram.
6. Kemudhorotan harus dihilangkan dan jalan
yang menuju kearahnya harus ditutup.
7. Bila tidak bisa melaksanakan semuanya maka
jangan ditinggalkan seluruhnya.
8. Hukum asal segala sesuatu mubah/boleh
sampai ada dalil yang jelas melarangnya.
9. Hukum asal masalah ibadah makdoh haram
sampai ada dalil/contoh yang menyuruhnya.
10. Apabila berkumpul dua perkara yang
sejenis maka yang satu masuk kepada yang lain.
11. Hukum* dapat berubah menurut perubahan
jaman. (* yang dimaksud disini hukum masalah furu (cabang) yang dzanni dan
masalah-masalah muamalah-keduniaan bukan masalah ushul dan atau yang qothi)
12. Hak keuntungan ada bersama resiko
menanggung kerugian.
13. Menolak (preventif) lebih utama dari
mengangkat (kuratif).
14. Yang lebih kuat meliputi yang lemah,
bukan sebaliknya.
E. Sumber Hukum Sekunder
3. Ijma
Ijma adalah kesepakatan (konsensus) para
mujtahid setelah wafatnya Rasulullah SAW, terhadap suatu hukum syara yang
bersifat praktis amaly.
Dalil yang menjadi dasar Ijma :
Firman Allah dalam QS An Nisa [4] : 59
Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan
Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu.
Taatilah Allah merujuk kepada Al-Quran.
Taatilah Rasul merujuk kepada sunnah (hadits)
dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu
merujuk kepada Ijma (konsensus) Ulil-Amri.
Hadits Nabi :
Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin,
maka baik pula dalam pandangan Allah.
Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan.
Ingatlah, barangsiapa yang ingin menempati
surga, maka bergabunglah (ikutilah) jamaah, karena syaitan adalah bersama
orang-orang yang menyendiri. Ia akan lebih juah dari dua orang, daripada dari
pada dari pada seorang yang menyendiri.
a. Ijma Sahabat
Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah
yang belum diketahui status hukumnya, maka beliau mengumpulkan fukaha dari
kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi
tentang masalah tersebut, bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah
Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut, tetapi bila tidak
ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan
berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat.
Khalifah Umar pun mengikuti cara yang
dilakukan oleh Abu Bakar. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan
Umar, para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Mekkah. Ijma sahabat pada
masa khalifah Abu Bakar dan Umar inilah yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan
wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin.
b. Ijma Ulama Mujtahid
Para sahabat besar baru bertebaran keluar
dari kota Madinah pada saat Khalifah Usman bin Affan dengan tujuan mengajarkan
agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin. Pada
masing-masing kota yang didiami, para sahabat besar mengajarkan agama sesuai
dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan
para ulama dan mujtahid dari generasi tabiin dan tabiit-tabiin.
Masing-masing imam mujtahid tidak
mengeluarkan pendapat yang sama sekali menyalahi pendapat ulama negerinya, agar
tidak dianggap aneh. Lantaran Itu Imam Abu Hanifah menghargai Ijma ulama Kufah,
begitu pula Imam Malik menghargai ijma ulama Madinah.
Tingkatan Ijma :
a. Ijma Sharih, jika semua ulama menyatakan
kesepakatannya.
b. Ijma Sukuti, jika seorang mujtahid
menyampaikan pendapatnya, kemudian pendapatnya tersebut diketahui oleh seluruh
ulama yang hidup semasa dan tidak ada seorang ulama pun yang mengingkari
pendapatnya, artinya ada juga yang mendiamkannya. Ijma sukuti ini masih
diperdebatkan apakah dapat dijadikan hujjah, karena diamnya seseorang ulama
belum tentu menyatakan kesepakatannya, bisa jadi sedang memikirkannya.
4. Qaul Sahabi (Perkataan Sahabat Nabi)
Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 :
Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama
(masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha
kepada Allah.
Hadits Nabi :
Saya adalah kepercayaan sahabatku, sedang
sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku.
Diantara metode ijtihad Imam Abu Hanifah
adalah : Bila ada konsensus pendapat dari sahabat maka saya ambil, bila ada
perbedaan pendapat diantara para sahabat, maka saya pilih. Bila ada pendapat
dari tabiin maka saya teliti.
5. Qiyas
Qiyas adalah memberikan hukum yang sama
kepada sesuatu yang mirip atau serupa dengan yang telah ada nash nya dalam
Al-Quran atau Hadits. Contohnya menyamakan hukum segala minuman yang memabukkan
dengan hukum khamr (arak).
Dasar kehujjahan Qiyas :
a. Firman Allah dalam QS An Nisa [4] : 59
Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan
Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Maka jika kamu berselisih dalam
suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya.
Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya
merujuk kepada Qiyas, maksudnya bandingkanlah (qiyas-kanlah) dengan yang dekat
dan serupa dengan yang telah ada pada kitab Allah (Al-Quran) dan atau Sunnah
Rasul-Nya (Hadits).
b. Firman Allah dalam QS Al-Baqarah : 179 :
Dan dalam qisash itu ada (jaminan
kelangsungan) hidup bagimu.
Dalam ayat diatas tampak bahwa illat (sebab)
disyariatkannya qishas adalah agar ada jaminan hidup bagi manusia.
c. Firman Allah dalam QS Al-Maidah : 91 :
Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak
menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar
dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sholat, maka
berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).
Dari ayat diatas tampak bahwa illat (sebab)
diharamkannya judi dan meminum khamr adalah karena menimbulkan permusuhan dan
kebencian, juga karena menghalangi manusia dari mengingat Allah.
d. Hadits Hadits Nabi :
1. Dari Umar bin Khatab : Hari ini aku telah
melakukan perkara besar, yakni mencium istriku, sedang aku sedang berpuasa.
Lalu Rasulullah bersabda : Bagaimana menurut pendapatmu andaikata kamu
berkumur-kumur padahal kamu sedang berpuasa ?. Hal itutak mengapa, jawabku.
Maka mengapa (kamu menanyakan) ? Jawab Rasulullah.
(HR Ahmad dan Abu Dawud)
Riwayat diatas menunjukkan bahwa Rasulullah
meng qiyaskan mencium istri ketika berpuasa dengan berkumur-kumur ketika
berpuasa. Keduanya mengandung persamaan illat yaitu mendekati membatalkan tapi
belum sampai pada tahap membatalkan.
2. Seorang wanita dari qabilah Juhainah
menghadap Nabi, seraya ia berkata : Ya Rasulullah, ibuku telah bernadzar untuk
mengerjakan haji, akan tetapi ia tak sempat mengerjakan haji sampai ia
meninggal dunia. Apakah saya berkewajiban mengerjakan haji untuknya ?. Benar,
jawab Nabi. kerjakan haji untuknya. Tahukah kamu andaikata ibumu mempunyai
hutang, bukankah kamu yang paling patut melunasinya ? Ya, jawabnya. Rasulullah
berkata : Tunaikan hutang-hutang Allah, sebab hak Allah lebih berhak untuk
dipenuhi . (HR Bukhary dan Nasai).
Riwayat diatas menunjukkan Nabi meng qiyaskan
nadzar kepada Allah yang belum dipenuhi dengan hutang kepada sesama manusia.
e. Surat Umar bin Khattab kepada Abu Musa Al
Asyari yang menjabat sebagai gubernur Basrah :
Lihatlah banyak hal-hal yang serupa dan
setara, maka qiyaskanlah hal-hal yang semacam itu.
Rukun Qiyas ada 4 (empat) yaitu :
1. Asal, yaitu perkara yang sudah ada
ketentuan hukumnya pada nash Al-Quran dan hadits.
2. Furu, yaitu cabang yang hukumnya disamakan
dengan hukum asal.
3. Hukum, yaitu hukum yang sudah diketahui
pada asal.
4. Illat, yaitu sebab yang sama yang
menyebabkan hukum asal dapat disamakan juga pada hukum furu.
Syarat-syarat qiyas :
a. Hukum asal tidak dinasakh.
b. Hukum asal jelas nashnya.
c. Hukum asal dapat diterapkan pada qiyas.
d. Hukum cabang tidak boleh mendahului hukum
asal.
e. Mempunyai illat yang sama.
f. Hukum cabang sama dengan hukum asal.
g. Ada illat ada hukum, tidak ada illat tidak
ada hukum.
h. Illat tidak boleh bertentangan atau
menyalahi syara.
Macam-macam Qiyas :
1. Qiyas Aula / Awlawi / Qathi
Yaitu qiyas hukum yang diberikan kepada asal
lebih patut diberikan kepada cabang.
Contoh, Nabi bersabda :
Kedua mata itu tali pengikat lubang dubur,
maka apabila mata telah tidur terlepaslah tali.
Kita pahamkan bahwa gila, pingsan, mabuk dan
segala yang menghilangkan akal lebih patut membatalkan wudhu.
2. Qiyas Musawi
Yaitu mengqiyaskan sesuatu kepada suatu yang
bersamaan kedua-duanya yang patut menerima hukum tersebut.
Contohnya dalam QS An-Nisa : 25 :
Maka atas mereka (budak-budak wanita) separoh
hukuman dari yang dikenakan atas wanita-wanita yang merdeka.
Kita pahamkan bahwa menurut irama pembicaraan
hukuman dera budak laki-laki kita qiyaskan dengan hukum budak wanita yaitu
separoh dari hukuman dera laki-laki yang merdeka.
3. Qiyas Adna / Adwan
Yaitu meng-qiyas-kan sesuatu yang kurang
patut menerima hukum yang diberikan kepada sesuatu yang memang patut menerima
hukum itu.
Misalnya kita mengqiyaskan haramnya nabiz
(rendaman lain dari anggur) kepada khamr (arak anggur) karena illatnya sama
sama memabukkan.
4. Qiyas Dalalah
Yaitu qiyas yang menunjuki kepada hukum,
berdasar dalil illat atau mengumpulkan asal dengan cabang berdasar kepada dalil
illat.
Misalnya mengqiyaskan ahrta anak kecil dalam
soal wajib dizakati kepada harta orang dewasa atas dasar illatnya sama-sama
harta yang berkembang.
5. Qiyas Illah
Yaitu qiyas yang tegas illatnya yang
mengumpulkan asal dengan cabang dan illat itulah yang menyebabkan hukum pada
asal.
6. Qiyas fi Manal Ashli
Yaitu qiyas yang tidak tegas illatnya yang
mengumpulkan asal dengan cabang.
Misalnya mengqiyaskan kadar hukuman dera buda
laki-laki kepada budak wanita dengan illat sama-sama budak.
7. Qiyas Syabah
Yaitu qiyas yang menjadi washaf (sebab illat)
yang mengumpulkan antara cabang dengan asal hanyalah penyerupaan atau cabang
yang pulang pergi dua asal, yaitu yang dapat diserupakan dengan dua asal, lalu
dihubungkan dengan yang banyak persamaannya.
Misalnya, seorang budak ketika merusakkan
sesuatu dalam membayar ganti rugi, berubah status antara sebagai manusia karena
ia anak keturunan Adam dan binatang, karena ia dipandang sebagai harta yang
dapat diperjual-belikan dan diwakafkan.
8. Qiyas Jali
Qiyas yang illatnya baik dinashkan atau
tidak, namun perbedaan pemisah antara asal dan furu diyakini tidak berbekas.
Misalnya, mengqiyaskan haramnya mencaci,
memukul orang tua kepada keharaman mengucapkan cis, dengan illat sama-sama
menyakitkan bagi keduanya.
9. Qiyas Khafi
Qiyas yang illatnya dipetik dari hukum asal.
Misalnya, mengqiyaskan pembunuhan dengan
benda berat dengan benda tajam.
10. Qiyas Sabri wattaqsim
Qiyas yang diketahui illatnya setelah
dilakukan penelitian yang mendalam.
Misalnya, mengqiyaskan jagung kepada gandum
dengan illat sama-sama makanan pokok yang mengenyangkan dan sama sama
ditimbang.
11. Qiyas Thardi
Qiyas yang dikumpulkan antara asal dengan
cabang oleh suatu sebab yang adanya hukum beserta wujudnya sebab itu, bila
sebab hilang maka hukumnya juga hilang.
12. Qiyas Aksi
Tidak ada hukum bila tidak ada illat atau
menetapkan lawan hukum sesuatu bagi yang sepertinya karena keduanya itu
berlawanan dengan tentang illatnya.
Contohnya, hadits Nabi :
Dan pada kemaluan seseorang kamu ada sedekah.
Para Sahabat bertanya : Apakah kami memuaskan syahwat dan memperoleh pahala ?
Jawab Nabi : Bagaimana pendapatmu jika dia meletakkan syahwatnya pada yang
haram, adakah dia berdosa ?, demikianlah apabila ia meletakkan pada yang halal,
ada pahala baginya. (HR Muslim).
13. Qiyas Ikhlati wal Munasabati
Qiyas yang menetapkan illat berdasarkan
munasabah, yakni kemaslahatan memelihara dasar maksud.
a. Qiyas Muatstsir
Qiyas yang illatnya mengumpulkan antara asal
dengan cabang dinashkan dengan terang atau dengan isyarat atau dengan ijma.
Misalnya firman Allah QS An Nur : 27 :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta ijin dan memberi salam kepada
penghuninya.
Sehubungan dengan ayat ini, maka Rasululah
bersabda : Ijin dilakukan semata-ata untuk kepentingan (keselamatan) mata.
b. Qiyas bekas sebab
Misalnya dibenarkan menjama shalat dimasa
hujan. Tidak ada keterangan bahwa hujan itu menjadi sebab, akan tetapi ada
keterangan bahwa safar menjadi sebab bolehnya jama. Maka dipahamkan bahwa sebab
disini adalah hujan.
14. Qiyas Mulaim
Qiyas yang jenis sebabnya memberi bekas pada
jenis hukum.
Misalnya, wanita yang ber haid tidak perlu
mengqadha shalatnya, karena menimbulkan kesukaran. Kesukaran ini tidak ada
keterangannya dari nash. Akan tetapi ada keterangan dari syara bahwa kesukaran
itu meringankan hukum.
15. Qiyas Munasib Gharib
Qiyas yang dibina atas illat yang tidak tegas
syara membolehkan atau menolaknya.
Misalnya, wanita yang ditalak tiga saat suami
menjelang mati dapat menerima warisan karena kita lawan maksudnya dengan
mengqiyaskan kepada pembunuhan agar cepat mendapat warisan, maka si pembunuh
tidak mendapat warisan.
F. Sumber Hukum
Tersier (digunakan untuk masalah juziyah (parsial), furuiyah (cabang) yang jauh).
6. Istihsan
yaitu : keluar dari nash karena sebab yang
lebih kuat, contoh : menurut qiyas sumur yang kena najis harus disiram air,
tapi hal itu tidak memungkinkan maka pen suciannya dengan menimba air sumur
7. Mashlahah mursalah
Yaitu keluar dari Qiyas kulli karena
pertimbangan memelihara hukum syara dengan jalan mempertimbangkan aspek
kemaslahatan, contoh : dibolehkan memenjara atau meng intimidasi terdakwa untuk
memperoleh pengakuannya.
8. Istihshab
Yaitu mengekalkan hukum yang telah ada, tidak
bisa berubah karena sesuatu yang masih ragu., contoh : seseorang yang pada
mulanya punya wudhu kemudian ragu ragu apakah dia telah batal apa belum, maka
hukumnya dia dianggap masih punya wudhu.
9. Istidlal
Yaitu pertalian antara dua hukum tanpa
menentukan illat (persamaan penyebabnya), contoh : seseorang sholat dengan
memenuhi syarat dan rukunnya, tapi kemudian diketahui dia tidak punya wudhu,
maka karena dia tidak punya wudhu sholatnya juga tidak syah.
10. Sadudz Dzariah
Yaitu mencegah sesuatu yang menjadi jalan
kerusakan untuk menolak kemudhorotan atau menyumbat jalan yang menuju
kemudhorotan. Contoh : Zina itu haram, maka melihat aurat wanita, berduaan
dengan lawan jenis bukan mahram ditempat sepi, bacaan porno itu juga haram
karena semua itu jalan menuju zina
11. Urf
yaitu kebiasaan yang tetap pada jiwa manusia
diterima oleh akal dan tidak menyalahi syara, contoh = sudah menjadi urf
(kebiasaan) bahwa harga bahan bangunan adalah sudah termasuk ongkos kirim, bila
ada penjual ketika mengirimkan bahan bangunan ke tempat pembeli masih menagih
ongkos kirim, maka hakim dapat menolak gugatan penjual berdasarkan Urf.
12. Adah
yaitu sesuatu yang dikehendaki manusia pada
umumnya dan berlaku terus menerus
13. Taamul
yaitu adat-istiadat kebiasaan dalam pergaulan
mumalah manusia
14. Baraah Ashliyah
yaitu : bebas dari hukum yang memberatkan
15. Istiqra
yaitu memeriksa seteliti mungkin berbagai
juziyah supaya dapat dihukumkan dengannya, contoh = seluruh sholat fardhu nabi
tidak pernah dilakukan diatas kendaraan, suatu ketika rosul pernah sholat duha
diatas kendaraan, maka dipahami bahwa sholat duha itu hukumnya sunnah.
16. At-Taharri
yaitu mempergunakan segala kemampuan akal
untuk mencapai ketaatan
17. Ar Rujuu ilal manfaati wal madharrah
yaitu menetapkan hukum berdasarkan manfaat
dan mudhorot
18. Al Qaulu bin nushush wal ijmaaI fil
ibadati wal muqaddarati wal qaulu bi itibaaril mashalih fil muaamalati wabaqil
ahkami
yaitu menetapkan hukum dengan nash dan ijma
thd soal yg pokok dan berdasarkan kemaslahatan pada urusan cabang, contoh =
para sahabat tidak menentang sitem Monarki Muawiyah krn takut terjadi
perpecahan kaum muslimin
19. Taghyirul Ahkam bi taghaiyuril ahwali wal
azman
Yaitu berubahnya hukum (masalah furu,
muamalah, duniawiyah) karena berubahnya keadaan dan jaman.
Yang mula-mula dan menjadi panutan dalam
masalah ini adalah Khalifah Umar bin Khattab yang memerintahkan sholat Tarawih
berjamaah dibawah satu imam dengan pertimbangan lebih teratur dan tertib, tidak
memberi zakat kepada muallaf (orang yang baru masuk Islam) dengan pertimbangan
Islam sudah kuat, tidak membagikan tanah daerah taklukan kepada prajurit yang
menaklukkan demi kepentingan kemaslahatan generasi yang kemudian, tidak
memotong tangan pencuri pada saat paceklik dan kelaparan dengan pertimbangan
keadaan kesulitan ekonomi.
20. Al akhdzu bil akhaffi (al akhdzu
biaqalli) maa qila
yaitu berubahnya hukum karena berubahnya masa
dan keadaan, contoh = Umar tidak memberikan zakat kepada para Muallaf karena
Islam sudah kuat, bila mereka murtad maka dibunuh
21. Al Ishmah
yaitu menjadikan hujjah perkataan orang yang
mendapat hak menetapkan hukum syara, contoh = Rosul memberikan hak kepada Saad
Bin Muaz untuk menentukan hukuman bagi pengkhianatan Bani Quraizah.
22. Syaru man qablana
yaitu : hukum syariat orang sebelum kita,
apabila disebutkan dalam nash maka juga menjadi syariat kita.
23. Al amalu bidhadhahir awil adhar
yaitu beramal dengan prioritas memegangi nash
yang lahir
24. Al akhdzu bil ihtiyath
yaitu memegangi mana yang lebih kuat dari dua
dalil
25. Al Qurah
yaitu menetapkan hukum berdasarkan undian,
untuk mencegah saling berbantah-bantahan
26. Al amalu bil ashli
yaitu mengamalkan dalil yang lebih rajih
(kuat).
27. Maqulun nash
yaitu mengamalkan dari apa yang dipahami dari
nash, bila tidak dapat ditafsirkan secara tekstual maka dibawa ke makna majasi.
28. Syahadatul qalbi
yaitu dengan memperhatikan suara hati nurani,
dasarnya hadis nabi : “mintalah fatwa kepada hatimu”
29. Tahkimul hal
yaitu menyerahkan keputusan kepada keadaan
sekarang yang sedang berlaku
30. Umumul balwa
yaitu membolehkan sesuatu yang sulit
melepaskan diri atau selalu terjadi
31. Al amalu bi aqawasy syabahaini
yaitu memegangi mana yang lebih kuat
kemiripannya, contoh menentukan orang tua anak dengan melihat kemiripannya
32. Dalalatul iqtiran
yaitu menyamakan hukum karena bergandengan
dengan yang lain, contoh = imam malik tidak mewajibkan zakat pada kuda karena
ada ayat “dan kuda dan bighal dan keledai”
33. Dalalatul ilhami
yaitu sesuatu yang diperoleh dari ilham,
disyaratkan pada orang yang taqwa dan soleh
dasarnya hadis nabi “berhati hatilah dengan
firasat orang mukmin karena mereka melihat dengan cahaya Allah”
34. Ruyan nabi
yaitu berpegang kepada apa yang dikatakan
nabi dalam mimpi, dasarnya hadis nabi : “mimpi seorang muslim itu 1/46
kenabian”
35. Al akhdzu bi aisari maa qilaa
yaitu mengambil mana yang paling mudah dari
dua pendapat
36. Al akhdzu bi aktsari maa qilaa
yaitu mengambil jumlah yang lebih banyak dari
jumlah yang berbeda beda
37. Faqdud dalil badal fihshi
yaitu menetapkan tidak ada hukum atas sesuatu
lantaran tidak diperoleh dalil yang mewujudkansesuatu hukum sesudah
dilaksanakan pembahasan yang luas.
X. Maqashid Syariah (Tujuan Syara)
Melalui penelitian yang mendalam akan
diketahui bahwa semua syariat agama mengandung maksud, tujuan dan hikmah bagi
kepentingan hamba. Semua perintah dan larangan dalam syariat agama mengandung
kemaslahatan, baik yang mudah diketahui maupun yang belum diketahui karena akal
manusia tidak mampu memahaminya.
Tuhan tidak mensyariatkan hukum-hukum secara
kebetulan dan tanpa hikmah. Syara bermaksud dengan hukum-hukum itu untuk
mewujudkan maksud-maksud umum. Kita tidak dapat memahami hakikat nash
terkecuali jika kita mengetahui apa yang dimaksud oleh syara dalam menetapkan
nash-nash syariat itu. Harus diingat bahwa petunjuk-petunjuk lafazh dan
ibarat-ibaratnya kepada makna yang kadang-kadang mempunyai lebih dari satu
penafsiran makna. Untuk mentarjih penafsiran makna yang lebih tepat maka perlu
memahami maksud syara (maqashid syariah).
Segala hukum muamalah, akal dapat mengetahui
maksud-maksud syara dalam menetapkan hukum yaitu berdasarkan mendatangkan
kemaslahatan bagi manusia dan menolak masfadat terhadap mereka. Jadi segala
yang membawa manfaat-maslahat adalah mubah dan segala yang membawa
mudharat-masfadat adalah haram.
Ibnul Qayyim berkata :
Dasar syariat ialah kemaslahatan hamba di
dunia dan di akhirat. Syariat semuanya adil, semuanya rahmat dan semuanya
mengandung hikmah. Tiap masalah yang keluar dari adil kepada curang, dari
rahmat kepada bala, dari maslahat kepada masfadat, dari hukmah kepada sia-sia
maka bukanlah syariat. Syariat itu adalah keadilan Allah diantara hamba-Nya,
rahmat Allah diantara makhluk-nya dan bayangan Allah dibumi-Nya dan himah-Nya yang
menunjukkan kepada-Nya dan kebenaran Rasul-Nya.
Maksud-maksud syara yang umum :
1. Memelihara segala yang dharuri (esensial
dan fital) bagi manusia dalam kehidupan mereka, yaitu :
a. Memelihara Agama (dien).
b. Memelihara Nyawa (nafs).
c. Memelihara Akal (aqlu).
d. Memelihara Nasab-keturunan (nasl).
e. Memelihara Harta (mal).
Apabila yang dharuri ini tidak terpelihara
maka kacaulah tatanan kehidupan, timbullah kekacauan dan kerusakan yang merata.
2. Menyempurnakan segala yang dihajati
manusia.
Yaitu segala yang diperlukan manusia untuk
memudahkan dan untuk dapat menanggung kesukaran-kesukaran pembebanan (taklif)
dan beban-beban hidup. Tetapi bila urusan itu tidak diperoleh, tidaklah rusak
tatanan hidup dan tidak merata kekacauan, hanya mengalami kesempitan dan
kesukaran saja.
Segala yang dihajati dalam pengertian ini
meliputi segala yang diperlukan oleh rasa kemanusiaan, kesusilaan, tata sosial
kehidupan, kemudahan-kenyamanan hidup. Apabila yang demikian ini tidak
diperoleh maka tiada cedera tatanan kehidupan, hanya saja dipandang tidak baik
oleh akal yang sehat dan fitrah yang sejahtera.
Tingkatan Maksud Syara
1. Tingkat Dharuriyah.
Yaitu tingkat yang harus ada, tidak boleh
tidak ada. Apabila tidak difardhukan pokok-pokok ibadat maka manusia akan lupa dan
berpaling dari Tuhan dan agama. Apabila tidak disyariatkan kita memrangi
orang-orang yang merusak agama dan memaksa kembali orang yang murtad, tentu
rusaklah urusan agama dan hilanglah pemeliharaannya.
Apabila tidak dihalalkan benda-benda yang
baik untuk dimakan, diminum dan dipakai dan apabila tidak disyariatkan nikah
dan pokok-pokok muamalah serta tidak difardhukan hukum-hukum jinayah maka akan
hilang maslahat tertentu untuk memelihara jiwa, akal, keturunan dan kehormatan.
Apabila tidak disyariatkan pokok-pokok hukum
yang berkenaan dengan hak milik dan penukaran manfaat serta tidak didakan hukum
membayar barang yang kita rusakkan dan tidak disyariatkan hukuman untuk
pencurian, perampokan tentu rusak maslahat harta.
2. Tingkat Hajiyah
Yaitu segala yang kita hajati untuk
memperoleh keluasan hidup dan menolak kesempitan.
Umapamanya untuk memelihara agama kita
dibolehkan mengqashar shalat ketika dalam safar atau menjama ketika sedang ada
udzur yang syari.
3. Tingkat Tahsiniah.
Yaitu tingkat yang paling rendah, dengan
hilangnya tingkat ini tidak menghilangkan tingkat asli serta tidak menimbulkan
kepicikan dan kesukaran dalam hidup. Tingkat ini masuk bagian kesempurnaan
untuk memelihara akhlak-akhlak tinggi dan adat-adat yang baik.
XI. Masalah Ushul (pokok) Furu (cabang)
A. Masalah Ushul (pokok)
Masalah Ushul (pokok) adalah masalah yang
menyangkut Itikad (keyakinan) dalam urusan : akidah, tauhid dan rukun iman
yang enam. Dalil-dalil dari Al-Quran maupun hadits yang menerangkan hal ini
semuanya adalah muhkam (tidak ada kemungkinan penafsiran lain) dan sharih
(jelas petunjuk lafaznya) dan Qathi (pasti).
Seorang muslim dalam masalah ushul ini harus
benar Itikadnya (keyakinannya). Salah dalam Itikad masalah ushul bisa
menyebabkan seseorang menjadi kafir keluar dari Islam. Jadi dalam masalah
ushul yang ada adalah iman atau kafir.
Contoh-contoh masalah ushul :
a. Tidak ada tuhan selain Allah.
b. Allah tidak beranak dan tidak
diperanakkan.
c. Allah satu satunya tempat bergantung.
d. Tauhid Rububiyah (meyakini Allah satu
satunya pencipta)
e. Tauhid Uluhiyah (meyakini Allah satu
satunya yang disembah dan diibadahi)
f. Tauhid Mulkiyah (meyakini Allah satu
satunya yang mengatur, memelihara, memberi rejeki seluruh makhluk-Nya).
g. Mengimani kebenaran dan kesucian Al-Quran.
h. Mengimani kebenaran Nabi Muhammad sebagai
Rasul yang maksum.
i. Mengimani Malaikat-malaikat Allah
j. Mengimani adanya akhirat (alam kubur,
mashar, shirot, surga-neraka)
k. Mengimani adanya takdir yang baik dan
buruk.
l. Dan lain-lain.
(Lihat kembali Ilmu Kalam point terakhir)
Masalah ushul yaitu akidah ibarat akar yang
merupakan dasar bagi sebuah pohon, Itikad-tauhid merupakan satu batang lurus
yang tidak bercabang-cabang yang merupakan penopang.
Jadi tidak boleh ada variasi, perbedaan
pendapat dan ijtihad dalam masalah ushul ini. Bila ada yang berani
berbeda pendapat, mengotak-atik masalah ushul ini maka harus ditentang dan
tidak ada toleransi dalam hal ini. Itu sebabnya para ulama sangat keras dan
mencelah para pelaku bidah akidah seperti kaum Khawarij, Syiah Ghulat, Murjiah,
Qadariyah, Jabariyah, Mujasimah, Musyabbihah, Muatillah (baca kembali Ilmu
Kalam).
Kelompok sempalan dalam masalah Ushul
(akidah) inilah yang dimaksud kelompok yang binasa oleh hadits Nabi :
Umatku akan terpecah-belah menjadi 73
golongan, diantara golongan-golongan itu yang selamat hanya satu golongan saja,
sedangkan lainnya adalah binasa. Para sahabat bertanya : Siapakah golongan yang
selamat itu ? Nabi menjawab : golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah, para sahabat
bertanya lagi, Apakah golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah itu ? Nabi menjawab :
Yaitu yang mengikuti apa-apa yang sekarang ini dipraktekkan (manhaj) saya dan
para sahabatku
B. Masalah Furu (cabang)
Masalah Furu (cabang) adalah semua hal diluar
masalah ushul, seperti rincian praktek tata cara ibadah, muamalah, urusan
duniawi, dsb. Begitu luasnya cakupan masalah furu ini yang berhubungan dan
menyentuh hampir seluruh aktivitas kehidupan seorang muslim. Dalam masalah
furuiyah ini tidak semua dalil-dalil hukumnya muhkam dan sharih, bahkan banyak
yang masih mujmal, masih am (umum), masih mutlaq tanpa penjelasan (bayan),
masih musytarak (mengandung lebih dari satu arti), petunjuk lafazh dan cakupan
lafazhnya tidak sharih (tidak jelas), memungkinkan timbul multi penafsiran dan
sebagainya.
maka dalam masalah furuiyah ini sering
terjadi ijtihad dalam meng istinabtkan hukumnya. Dari sinilah sering terjadi
perbedaan pendapat diantara para ulama dan muijtahid. Jadi dalam masalah furu
yang ijtihadi ini hendaknya setiap muslim bersifat saling ber toleransi yaitu
mengikuti mana yang dianggap paling baik diantara pendapat-pendapat yang ada,
tidak memaksa orang lain mengikuti pendapatnya dan membiarkan (tidak mencelah)
orang lain yang tidak sependapat. Dalam masalah furu yang ijtihadi ini yang
ada adalah benar dan salah. Bila benar dapat dua pahala, bila salah dapat satu
pahala.
Contoh-contoh masalah Furu
a. Detail tata cara sholat
b. Fiqih Zakat
c. Fiqih Puasa
d. Fiqih Haji
e. Fiqih Jual-Beli
f. Fiqih Sewa-Menyewa
g. Fiqih muamalah
h. Urusan duniawiyah
i. Dan lain-lain.
Masalah furu itu ibarat ranting, dahan dan
cabang dalam sebuah pohon, yang tentunya tidak harus satu (sebagaimana batang
pohon / akidah) melainkan ada banyak ragam cabang. Jadi dalam masalah furu boleh
ada ijtihad, boleh ada variasi, dan boleh ada perbedaan pendapat.
XII. Dalil Qathi (pasti) Dzani (dugaan)
A. Dalil Qathi (pasti)
Dalil disebut Qathi (pasti) apabila memenuhi
dua persyaratan :
1. Qathi wurudnya (sumbernya) yaitu :
Al-Quran dan Hadits Mutawatir
2. Qathi dhalalah-nya (petunjuk lafazhnya)
yaitu : muhkam (tidak ada kemungkinan multi penafsiran) dan sharih (jelas).
Bila suatu dalil dari Ayat Al-Quran dan atau
Hadits telah memenuhi semua syarat dalil Qathi diatas maka menjadi dalil
Qathi yang sempurna, maka hukumnya harus diterima bulat-bulat, tanpa reserve.
Tidak boleh ada ijtihadi lagi dan tidak boleh diotak-atik, tidak boleh
ditambah-dikurangi.
Kebanyakan masalah Ushul dalilnya adalah
qathi, sedangkan kebanyakan masalah furu dalilnya tidak qathi. Tetapi ada juga
masalah furu yang dalilnya qothi sehingga semua ulama menyepakatinya dan tidak
ada perbedaan pendapat dalam hal tersebut, contohnya :
a. Hukum haram bagi daging babi, bangkai,
darah yang mengalir, khamr (arak) dan riba.
b. Hukum rajam bagi pezina mukhson (sudah
pernah menikah), dera 100 kali bagi pezina ghoiru mukhson (belum pernah
menikah).
c. Hukum Qisash (balas bunuh) bagi pembunuhan
yang disengaja.
d. Hukum potong tangan bagi pencuri.
e. Hukum dera 80 kali bagi orang yang
mendakwakan tuduhan dusta.
f. Hukum potong tangan, kaki dan disalip bagi
pelaku kerusuhan dan tindakan anarkis. (perampok, penjarah, pelaku huru-hara,
pemberontak, dsb)
B. Dalil Dzani (dugaan)
Dalil dzani adalah dalil yang tidak memenuhi
syarat dalil qathi, yaitu :
1. Dzani wurudnya (sumbernya) yaitu : Hadits
yang tidak mencapai derajad mutawatir.
2. Dzani Dhalalahnya (petunjuk lafazhnya)
yaitu : masih ada kemungkinan multi penafsiran dan tidak sharih (tidak jelas)
petunjuk dan cakupan lafazhnya.
Kebanyakan masalah furu yang ijtihadi
dalilnya adalah Dzani, seperti hadis ahad, atsar-fatwa sahabat, istihsan,
maslahah mursalah dan semua sumber hukum sekunder dan tersier yang diuraikan
pada point IX B diatas.
XIII. Tentang Bidah
Pembahasan tentang bidah merupakan masalah
yang sangat krusial, karena perbedaan pendapat dan pemahaman tentang masalah
bidah ini yang sekarang ini menjadi salah satu biang keladi dan pemicu utama
terjadinya friksi diantara berbagai kelompok, aliran, mazhab dan harokah Islam.
Apalagi sekarang ini ada yang menjadikan kata bidah sebagai
peluru yang sering dimuntahkan dan menjadikan kata mubtadi
(pelaku bidah) sebagai label yang sering ditempelkan kepada kelompok lain.
A. Pengertian Bidah Secara Bahasa
Secara bahasa bid’ah itu berasal dari
ba-da-’a asy-syai yang artinya adalah mengadakan dan memulai. Kata “bid’ah”
maknanya adalah baru atau sesuatu perkara yang baru yang belum pernah ada pada
masa Nabi.
B. Pengertian Bid’ah Secara Istilah.
Secara istilah, bid’ah itu didefinisikan oleh
para ulama dengan sekian banyak versi dan batasan. Hal itu lantaran persepsi
mereka atas bid’ah itu memang berbeda-beda. Sebagian mereka ada yang meluaskan
pengertiannya hingga mencakup apapun jenis yang baru (diperbaharui), sedangkan
yang lainnya menyempitkan batasannya.
Sultonu Ulama, Imam Izzudin bin Abdus Salam,
seorang ulama terbesar dari mazhab Syafii (wafat 660 H) dalam kitabnya Qawaidul
Ahkam menerangkan bahwa bidah adalah suatu perbuatan (baru) yang tidak dikenal
pada zaman Rasulullah SAW.
Dalam Ensiklopedi Fiqih jilid 8 keluaran
Kementrian Wakaf dan Urusan Keislaman Kuwait halaman 21 disebutkan bahwa secara
umum ada dua kecenderungan orang dalam mendefinisikan bid’ah. Yaitu
kecenderungan menganggap apa yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bidah
meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram. Dan kedua adalah kecenderungan
untuk mengatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat.
Kelompok Pertama
Kelompok yang menganggap bahwa perkara baru
yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bidah meski hukumnya tidak selalu
sesat atau haram, maksudnya ada juga perkara baru yang baik.
a. Tokoh-tokohnya
Di antara para ulama yang mewakili kalangan
ini antara lain adalah Al-Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya seperti Imam Izzudin
bin Abdis Salam, Imam Nawawi, Ibnu Hajar Atsqolani, As-Suyuthi, Abu Syaamah.
Sedangkan dari kalangan Al-Malikiyah ada Al-Qarafi dan Az-Zarqani. Dari
kalangan Maliki seperti Ibnul Abidin dan dari kalangan Al-Hanbaliah adalah
Al-Jauzi serta Ibnu Hazm dari kalangan Dzahiri.
b. Argumennya
Shalat Tarawih pada jaman Nabi dan Abu Bakar
dilakukan sendiri-sendiri atau berjamaah berkelompok-kelompok yang terpisah
dalam Masjid. Pada Jaman Khalifah Umar bin Al-Khattab beliau membuat perkara
baru yaitu menghimpun orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah dengan satu
imam, pada waktu itu ditunjuk Ubay bin Kaab sebagai imamnya. Setelah itu Umar
berkata : “ini adalah sebaik-baik bid’ah“.
Perbuatan itu tidak ditentang oleh para
sahabat Nabi yang lain dan bahkan sepeninggal Umar masih terus berlangsung
sampai masa kita sekarang ini.
Ibnu Umar juga menyebut shalat dhuha’
berjamaah di masjid sebagai bid’ah yaitu jenis bid’ah hasanah atau bid’ah yang
baik.
Hadits yang mengindikasikan adanya bidah yang
baik adalah hadits berikut :
Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka
dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari
qiyamat. Siapa yang mensunnahkan sunnah sayyi’ah (kejelekan), maka dia
mendapatkan ganjaran dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat.
Dalam Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar
Atsqolani, pada juz XVII halaman 10 menyebutkan : 1. Ada riwayat dari Abu Nuim
menyebutkan bahwa Imam Syafii pernah berkata :
Bidah itu dua macam, satu bidah terpuji dan
yang lain bidah tercela. Bidah terpuji adalah yang sesuai dengan sunnah Nabi
dan bidah yang tercela adalah yang tidak sesuai atau menentang sunnah Nabi.
2. Imam Baihaqi dalam kitabnya Manaqib Syafii
menyebutkan bahwa Imam Syafii pernah berkata :
Perkara baru (bidah) itu ada dua macam : 1.
Perbuatan keagamaan yang menentang atau berlainan dengan Quran, Sunnah Nabi,
atsar dan Ijma, ini dinamakan bidah dhalalah. 2. Perbuatan keagamaan yang baik,
yang tidak menentang salah satu dari yang tersebut diatas adalah bidah juga,
tetapi tidak tercela.
3. Tentang bidah, sebagian ulama membagi
kepada hukum yang lima dan memang begitulah. (maksudnya Ibnu Hajar Atsqolany
mendukung membagi hukum bidah kepada hukum yang lima yaitu : wajib, sunnah,
makruh, mubah, haram).
Bisa kita nukil pendapat Imam Izzudin bin Abdis
Salam yang mengatakan bahwa perkara baru yang tidak terjadi pada masa
Rasulullah SAW, terbagi menjadi lima hukum, yaitu : bid’ah wajib, bid’ah haram,
bid’ah mandub (sunnah), bid’ah makruh dan bid’ah mubah.
c. Contoh-contohnya :
Bidah yang wajib :
- Membukukan mushaf Al-Quran.
- Membukukan hadits Nabi (padahal ada hadits
Nabi yang melarang membukukan hadits, karena khawatir tercampur-baur dengan
Al-Quran).
- Kodifikasi, perumusan dan penulisan
ilmu-ilmu keislaman yang seolah-olah berdiri sendiri seperti : ilmu tafsir,
ilmu hadits, ilmu Al-Quran, ilmu Fiqih, ilmu kalam (ushuludin), ilmu mantiq
(logika), ilmu nahwu-sharaf, ilmu balaghah, ilmu tasawuf.
- Mempelajari teknologi militer untuk menjaga
kekuatan dan pertahanan kaum Muslimin.
Bidah yang haram :
- Bidah dalam masalah akidah berbagai firqoh
sempalan, seperti :
a. Khawarij yang memisahkan diri dan selalu
memberontak terhadap Amir Kaum Muslimin yang mereka anggap berbuat zalim,
menghalalkan darah orang-orang diluar kelompoknya dan mudah mengkafirkan sesama
muslim.
b. Syiah Ghulat yang mengkultuskan Imam Ali,
menuduh Abu Bakar, Umar, Usman menyerobot hak kekhalifahannya. Mencaci maki
Aisyah, Talhah, Zubair dan Muawiyah yang pernah berseteru melawan Ali.
c. Murjiah yang mempunyai keyakinan iman itu
cukup dengan hati. Perkataan dan perbuatan tidak termasuk iman.
d. Qadariyah yang menolak takdir, Jabariyah
yang menolak ikhtiar usaha bebas manusia.
e. Mujasimah dan Musyabbihah yang
menyerupakan Allah dengan keadaan manusia.
f. Muatillah yang menolak sifat-sifat Allah.
g. Mutazilah yang mengatakan Al-Quran adalah
makhluk.
- Bidah dalam ibadah, seperti :
a. Menambah atau mengurangi jumlah rokaat
shalat lima waktu.
b. Shalat dengan tambaan bacaan bahasa
Indonesia.
c. Puasa sehari penuh (tidak berbuka saat
maghrib).
d. Mewajibkan zakat terhadap barang-barang
yang tidak wajib dizakati.
e. Melakukan haji tidak ke Mekkah.
- Bidah yang Sunnah :
a. Shalat Tarawih berjamaah.
b. Adzan pertama pada shalat Jumat.
c. Mengadakan pengajian Maulid Nabi.
d. Mendirikan sekolah/madrasah/majelis talim.
- Bidah yang Makruh :
a. Menghias masjid.
b. Menetapkan waktu tertentu untuk ibadah.
c. Perdebatan yang sengit dalam masalah
khilafiah.
d. Sistem pemerintahan yang monarki.
e. Melakukan ibadah (shalat/puasa) sunah
untuk tujuan duniawi semata-mata.
- Bidah yang Mubah :
a. Makan menggunakan sendok.
b. Memakai pakaian yang bagus.
c. Membuat rumah yang besar.
d. Menggunakan peralatan modern.
e. Dzikir berjamaah.
f. Bersalam-salaman setelah shalat berjamaah.
Kelompok Kedua
Kelompok ini menganggap bahwa yang disebut
perkara baru (bid’ah) itu semuanya adalah sesat, berdasarkan pemahaman tekstual
keumuman lafazh hadits Semua perkara baru (bidah) adalah sesat (dhalalah).
Kelompok ini menganggap semua perkara baru
dalam masalah syariat adalah bidah dhalalah. Sedangkan perkara baru dalam
masalah diluar syariat dihukumi sebagai sarana. Hukum sarana itu tergantung
pada tujuannya. Sarana menuju yang haram adalah haram, sarana menuju yang wajib
juga menjadi wajib.
a. Tokoh
Di antara mereka yang berpendapat demikian
antara lain adalah At-Thurthusy, Asy-Syathibi, Imam Asy-Syumunni dan Al-Aini
dari kalangan Al-Hanafiyah. Juga ada Al-Baihaqi serta Ibnu Hajar Al-Haitami
dari kalangan Asy-Syafi’iyah. Dan kalangan Al-Hanabilah diwakili oleh Ibnu
Rajab dan Ibnu Taimiyah.
b. Dalil
Dalil yang mereka gunakan adalah:
Bahwa Alloh SWT telah menurunkan syariat
dengan lengkap diantaranya adalah fiman Alloh SWT : Pada hari ini telah
Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan
telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu (QS Al-Maidah: 3)
Hadits Nabi :
Bahwa semua perkara baru (bid’ah) itu adalah
sesat.
“Barang siapa yang mengerjakan suatu
perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut akan tertolak.”
(HR Muslim 1817)
c. Contoh :
- Maulud Nabi tidak ada di jaman Nabi, maka
itu termasuk bidah dhalalah.
- Dzikir berjamaah tidak ada dijaman Nabi,
maka itu termasuk bidah dhalalah.
- Pemilu tidak ada di jaman Nabi, maka itu
termasuk bidah dhalalah.
- Tahlilan tidak ada dijaman Nabi, maka itu
termasuk bidah dhalalah.
Tahqiq :
1. Kedua kelompok sepakat bahwa tidak semua
perkara baru adalah bidah dhalalah, yaitu sarana yang menuju kebaikan dan
urusan duniawi tidak termasuk bidah dhalalah.
2. Perbedaan pendapat terjadi pada : perkara
baru tentang ibadah dan adat/tradisi yang mengandung unsur agama, contohnya :
a. Shalat Jumah dengan Kutbah Bahasa
Indonesia, itu termasuk bidah dhalalah atau tidak.
b. Shalat Sunah berjamaah itu bidah dhalalah
atau tidak.
c. Dzikir berjamah itu bidah dhalalah atau
tidak.
d. Peringatan maulid Nabi itu bidah dhalalah
atau tidak.
e. Tradisi tahlilan pada hari ke-3, 7, 40,
100 hari orang meninggal itu bidah atau tidak.
3. Hadits nabi Semua perkara baru (bidah)
adalah sesat (dhalalah). Secara tekstual memang mengisyaratkan bahwa semua
perkara baru itu adalah bidah dhalalah.
Petunjuk lafazh hadits diatas memang bersifat
umum (am), lafazh am masih memungkinkan menerima takhsis (peng-khususan) dan
ternyata memang ada takhsisnya yaitu hadits : Siapa yang mensunnahkan sunnah
hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya
hingga hari qiyamat.
Jadi tidak semua perkara baru bidah dhalalah,
masih memungkinkan adanya sunnah hasanah.
4. Riwayat-atsar yang menunjukkan para
sahabat Nabi melakukan perkara baru yang belum dikenal dijaman Nabi :
a. Khalifah Abu Bakar mengumpulkan Al-Quran
dalam satu mushaf yang tidak diperintahkan dan tidak ada contohnya dari Nabi.
b. Khalifah Usman menyatukan Al-Quran dalam
satu rasm dan menyalinnya menjadi beberapa mushaf.
c. Khalifah Usman menambahkan adan menjadi
dua kali pada Shalat Jumat, maksudnya adan pertama untuk mengingatkan manusia
bahwa waktu shalat Jumat sudah dekat.
d. Khalifah Umar bin Khatab melaksanakan
shalat Tarawih berjamaah dibawah satu imam yang belum pernah dilakukan di jaman
Nabi.
e. Khalifah Umar bin Khatab tidak memberikan
zakat kepada muallaf, padahal mereka jelas-jelas termasuk muzakki yang berhak
menerima zakat dengan alasan Islam sudah kuat tidak perlu lagi membujuk hati
orang-orang yang baru masuk Islam.
f. Khalifah Umar tidak memotong tangan
pencuri ketika masa kelaparan dan paceklik.
g. Khalifah Umar menetapkan orang yang
mentalak tiga sekaligus, jatuh talak tiga karena pada masa itu orang memudahkan
urusan talak dan sering terjadi lelaki yang menjatuhkan talak tiga sekaligus.
Padahal jaman Nabi dan Khalifah Abu Bakar, talak tiga sekaligus hanya dianggap
jatuh talak satu.
h. Khalifah Umar tidak membagikan tanah
taklukan di Iraq kepada para prajurit dengan perimbangan kemaslahatan generasi
mendatang, padahal Nabi membagikan tanah taklukan Khaibar kepada para
perajurit.
i. Ibnu Umar menyebut bahwa shalat dhuha’
berjamaah di masjid sebagai bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik.
j. Khalifah Umar bin Abdul Azis membukukan
hadits, padahal ada hadits Nabi yang melarang menuliskan hadits (karena
khawatir tercampur dengan Al-Quran).
Semua atsar diatas menunjukkan bahwa tidak
semua perkara baru adalah bidah dhalalah, jadi perlu diselidiki dulu faktor
maslahat dan manfaatnya, illat hukumnya, maqashid syariahnya dan sebagainya.
5. Jadi jangan gampang memvonis bidah
dhalalah terhadap semua perkara baru, tapi juga jangan terus seenaknya membuat
perkara baru yang tanpa ada tujuan dan kemaslahatan yang nyata.
6. Tentang adat, tradisi atau perkara mubah
yang mengandung unsur agama, hendaknya dilihat content (isinya) dan dampaknya,
kalau isinya tidak bertentangan dengan jiwa syariat dan dampaknya tidak
mendatangkan kemudharatan atau perkara baru itu menjadi sarana yang membawa
manfaat-maslahat maka jangan terus mudah divonis sebagai bidah dhalalah.
XIV. Ikhtilaf dan Toleransi
Dalam masalah ushul, atau masalah furu yang
dalilnya sudah Qathi maka tidak boleh ada perbedaan pendapat, tidak boleh ada
ijtihad dan tidak boleh ditambah-dikurangi. Maka bila ada pihak-pihak yang
berbeda pendapat dalam hal itu maka setiap muslim harus berteriak lantang
menentangnya, itulah sebabnya jangan heran kalau para ulama dengan tegas
menentang pemikiran kelompok-kelompok sempalan pelaku bidah dalam masalah
akidah, yaitu kaum Khawarij, Syiah Ghulat, Murjiah, Qadariyah, Jabariyah,
Mujasimah, Musyabbihah, Muatillah.
Dalam masalah furu yang dzani dan ijtihadi
maka boleh ada ijtihad, boleh ada variasi dan perbedaan pendapat. Setiap muslim
tidak boleh bersikap keras atau fanatik terhadap pendapat atau mazhabnya. Dalam
masalah ini perbedaan pendapat adalah suatu keniscayaan (pasti terjadi) dan
harus saling ber toleransi.
Perbedaan pendapat dalam masalah furu,
fiqih-amaliah yang khilafiah ini sudah terjadi sejak jaman sahabat Nabi dan
masa para salafus saleh. Para generasi salaf berbeda pendapat tapi tetap
bersatu, tidak terpecah-belah dan saling ber toleransi. Tidak saling mencelah,
tidak saling menyalahkan, tidak saling mencaci, tidak saling memvonis mubtadi
(pelaku bidah), tidak saling mengkafirkan dan tidak mudah menghukumi
haram terhadap suatu masalah yang tidak ada dalil qathi yang tegas
menunjukkan hukum haramnya.
Berikut ini riwayat-riwayat yang menunjukkan
manhaj generasi salaf dalam masalah ikhtilaf :
Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : Aku
akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta sebagaimana Usman menggiring
pada Mushaf Al-Quran. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa
hal itu tidak mungkin, karena sejak Masa Khalifah Usman, sahabat Nabi sudah
tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa.
Jadi manhaj salafus saleh adalah memaklumi perbedaan pendapat masalah
ikhtilaf dan tidak memaksakan pendapatnya.
Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa
keluar darah dari hidung atau karena luka maka membatalkan wudhu. Suatu hari
kepada beliau ada yang bertanya : Apakah engkau mau shalat dibelakang orang
yang luka berdarah tetapi tidak berwudhu lagi ? . Dengan nada meninggi Imam
Ahmad bin Hanbal berkata : Bagaimana saya tidak mau shalat dibelakang Imam
Malik bin Anas dan Said Al Musayyab ?. Kedua imam tersebut berpendapat bahwa
keluar darah dari hidung atau karena luka tidak membatalkan wudhu. Jadi
manhaj salafus saleh adalah menghormati pendapat orang lain yang berbeda dan
tetap menjaga ukuwah.
Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : Kami
pernah disamping Imam Malik, ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau
lalu berkata : Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya, para
kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan
kepada engkau. Imam Malik berkata : Bertanyalah. Orang tadi lalu menyampaikan
pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : aku tidak memandangnya
baik. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas
memfatwakan hukumnya, Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang
menyuruh aku datang kemari, bilamana aku telah pulang kepada mereka ? Imam
Malik berkata : Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak
menganggapnya baik. Artinya beliau sangat hati-hati, tidak gegabah
menghukumi haram bila tidak ada dalil nash qathi yang tegas mengharamkannya.
Imam Al Auzai (mufti dan fuqaha di Damaskus
Syria) menceritakan pendapatnya tentang orang yang mencium istrinya : Kalau
orang itu datang padaku bertanya bagaimana hukumnya, maka akan aku katakan
bahwa dia harus wudhu lagi, tetapi bila dia tidak mau wudhu lagi, aku tidak
akan mencelanya.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata tentang sholat
sunnah setelah ashar : Kami tidak melakukannya tetapi kami tidak mencela yang
melakukannya.
Suatu hari, ada perbedaan perdebatan terbuka
antara Ali bin Madini dan Yahya bin Muin tentang hukumnya menyentuh kemaluan :
apakah membatalkan wudhu atau tidak ? Perdebatan ini dihadiri oleh Imam Ahmad
bin Hanbal. Kata Yahya bin Muin : Orang itu harus wudhlu lagi. Dia menggunakan
hadits yang diriwayatkan dari Busrah binti Shafwan sebagai dalil. Sedangkan Ali
bin Madini pendapatnya berlawanan menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Qais
bin Thalaq sebagai dalil. Kemudian Yahya menyampaikan pendapat Ibnu Umar
sebagai dalil tambahan, dibalas lagi oleh Ali dengan pendapat Ammar bin Yasir.
Menanggapi kejadian itu, Imam Ahmad bin
Hanbal langsung menengahi, Sudahlah, derajad Ammar dan Ibnu Umar sama. Siapa
suka boleh mengambil pendapat salah satunya.
Ibnu Qudamah dalam kitab Al Mugni
menceritakan sebuah ketentuan dalam mazhab Imam Ahmad bin Hanbal : Menurut
penegasan Imam Ahmad bin Hanbal, shalat dibelakang orang-orang yang berbeda
dengan kita dalam masalah cabang-cabang hukum fiqih, seperti para pengikut
mazhab Abu Hanifah, Malik, Syafii hukumnya adalah sah dan sama sekali tidak
makruh. Karena para sahabat, para tabiin dan orang-orang sesudah mereka masih
tetap bermakmum kepada yang lain, walaupun berbeda pendapat dalam masalah hukum
cabang itu. Dengan demikian, ketentuan ini merupakan salah satu kesepakatan
(ijma). Dan kalau diketahui bahwa imamnya meninggalkan sebuah syarat shalat
atau salah satu rukunnya, yang diyakini oleh makmum tetapi tidak diakui oleh
imam, maka menurut makna literal dari redaksi pendapat Imam Ahmad : shalat
dibelakang imam itu tetap sah.
Dalam mazhab Imam Abu Hanifah dan para
sahabatnya dikatakan bahwa wudhu seseorang bisa batal karena keluar darah.
Suatu hari imam Abu Yusuf (pengikut mazhab Abu Hanifah) melihat bahwa Khalifah
Harun Al Rasyid berbekam kemudian langsung shalat tanpa wudhu terlebih dahulu,
karena mengikuti pendapat Imam Malik yang menyatakan bahwa orang yang berbekam
tidak batal wudhunya. Kemudian Imam Abu Yusuf langsung bermakmum dibelakang
Khalifah Harun Al Rasyid dan tidak mengulangi shalatnya.
Imam Syafii dalam qaul qadimnya berpendapat
bahwa rambut yang sudah dipotong hukumnya najis, suatu hari Imam Syafii shalat
setelah bercukur rambut, sementara dibajunya masih ada sisa-sisa rambut
berceceran. Orang-orang yang melihatnya menanyakan hal tersebut, maka Imam
SyafiI menjawab : Saat dalam kesulitan, kita mengambil pendapat penduduk Iraq
(mazhab Imam Abu Hanifah).
Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa menceritakan
bahwa Imam Syafii yang berpendapat menjaharkan (membaca nyaring)
Bismillahirrahmanirrahim dalam shalat, tetap bermakmum kepada para ulama
Madinah yang tidak pernah menjaharkan Bismillahirrahmanirrahim
Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Al Khallal :
diceritakan kepada saya oleh Al Hushain bin Basyar Al Makhrumi, bahwa yang
bersangkutan telah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang masalah sumpah
yang menjurus ke arah perceraian. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab tegas, Kalaui
dia melakukanm berarti dia telah melanggar sumpahnya.
Lalu Al Hushain meminta jalan keluar,
Bagaimana kalau ada orang lain yang memfatwakan kepada saya, bahwa dia tidak
melanggar sumpahnya (tidak jatuh talak perceraian) ?. Imam Ahmad bin Hanbal
menjawab : Kamu tahu pengajian para ulama Madinah ? Al Hushain menjawab, Ya
Saat itu memang ada beberapa ulama Madinah yang membuka pengajian di teras
Masjid Agung Baghdad. Apakah kalau mereka memberikan fatwa (berbeda), istri
saya tetap halal ? maka Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : Ya !.
Baihaqi dalam Sunan Al Kubra meriwayatkan
dari Abdurrahman bin Yazid : Dahulu kami bersama Abdullah bin Masud di
Mudzalifah. Dan saat mereka memasuki Masjid Mina, beliau bertanya : Amirul
Mukminin (Usman bin Affan) shalat berapa rakaat ? Mereka menjawab, Empat rakaat.
Maka Ibnu Masud langsung shalat empat rakaat tanpa membantah.
Mereka langsung mempertanyakan, Bukankah anda
yang meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah dan Abu Bakar melakukan shalat dua
rakaat ?. Ibnu Masud menjawab : Memang, dan sekarang saya akan meriwayatkannya
untuk kalian. Tetapi Usman bin Affan sekarang adalah imam kita dan saya enggan
berbeda dengannya, karena perbedaan pendapat (pada saat seperti) ini adalah
buruk.
Diriwayatkan pula bahwa Imam Syafii
meninggalkan qunut saat shalat subuh di Masjid Imam Abu Hanifah. Ini
bertentangan dengan mazhab beliau sendiri. Banyak yang mempertanyakan hal itu,
maka Imam Syafii menjawab : Aku tidak mencabut pendapatku tentang qunut pada
shalat subuh tetapi aku menghormati pendapat Imam Abu Hanifah.
Dari Ibnu Abdil Barr berkata dalam At Tahmid
: Penulis pernah mendengar guru besar kami Abu umar Ahmad bin Abdul Malik
berkata : Dahulu Abu Ibrahim bin Ishaq bin Ibrahim, guru besar kami, selalu
mengangkat tangannya sebelum dan sesudah bangun dari ruku, berdasarkan hadits
Ibnu Umar yang tercantum dalam Al Muwatta; sejauh yang penulis temui, beliau
adalah terbaik yang paling menguasai fiqih dan paling benar dalam ilmu dan
agamanya.
Penulis berkata : Tapi kenapa anda tidak
mengangkat tangan anda, agar kami bisa mengikuti anda ? Beliau menjawab : Saya
tidak akan berbeda dengan bunyi hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Al Qasim,
karena orang-orang disekitar kita sekarang ini melakukan ruku (tanpa mengangkat
tangan) berdasarkan hadits itu. Dan tindakan yang berbeda dengan kebiasaan
umum dalam hal-hal yang diperbolehkan bukan termasuk tradisi imam-imam kita.
Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa nya
mengatakan, Apabila seorang makmum berjamaah dengan imam yang membaca qunut
pada shalat subuh atau shalat witir, selayaknya dia ikut membaca qunut. Tidak
perduli apakah imamnya berqunut sebelum ruku atau sesudahnya. Sebaliknya, kalau
imamnya tidak membaca qunut, makmum juga dianjurkan tidak berqunut. Begitu juga
kalau imam memandang bahwa perbuatan itu disunnatkan, berbeda dengan pandangan
para makmumnya, maka ; kalau dia meninggalkannya untuk menyatukan pendapat,
tentu tindakan ini dianggap lebih baik.
Ibnu Taimiyah kemudian mengajukan sabda Nabi
kepada Aisyah sebagai dalil : Hanya karena kaummu baru meninggalkan masa
jahiliyah, aku tidak jadi menyuruh orang untuk meratakan bangunan Kabah,
kemudian aku akan membuat bangunan baru yang mempunyai dua pintu, satu pintu
untuk masuk dan pintu yang lain untuk keluar.
Terlihat disini, bahwa keinginan yang
dianggap Nabi lebih baik ditinggalkan sendiri oleh beliau hanya supaya tidak
menimbulkan antipati orang banyak.
Dibagian lain dalam buku Majmu Fatwanya, Ibnu
Taimiyah berkata : Karena itu, para imam, Ahmad dan lain-lainnya memandang akan
lebih baik kalau seorang imam shalat meninggalkan sebuah perbuatan sunnat yang
diyakininya, kalau hal itu bisa menarik simpati orang orang yang beriman.
Ibnu Muflih dalam kitabnya Al Funun dalam bab
Al Adab Ast Syariah berkata : Tidak boleh keluar (menyalahi) dari adat
kebiasaan masyarakat kecuali kalau perbuatan itu diharamkan, karena Rasulullah
sendiri telah membiarkan bangunan Kabah begitu saja, seraya bersabda : Kalau
bukan karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah
Fiqih Ikhtilaf
Pokok-pokok pedoman bagi pemahaman fiqih
ikhtilaf :
1. Persatuan adalah wajib.
Aku wasiatkan kepada kalian (Agar mengikuti)
para sahabatku kemudian generasi berikutnya (tabiin) kemudian generasi
berikutnya (tabiit tabiin). Kalian harus tetap dalam jamaah. Waspadalah
terhadap perpecahan, karena sesungguhnya syetan bersama orang yang sendirian
dan dia (syetan) akan lebih jauh dari dua orang. Barang siapa menginginkan bau
harum surga hendaknya selalu dalam jamaah. (HR Turmudzi, Hakim, shahih
menurut syarat Bukhary Muslim)
2. Menjauhi dan menghindari perpecahan.
Berpeganglah kamu sekalian pada tali Allah
dan jangan berpecah belah. (QS Ali Imran : 103).
dan janganlah kamu saling berselisih karena
nanti kamu jadi lemah dan hilang kekuatan kamu.
(QS Al Anfal : 46).
3. Perbedaan pendapat dalam masalah furu
(cabang) adalah suatu kemestian yang pasti terjadi dan merupakan rahmat dan
keluasan bagi umat.
Hadits Nabi : Perbedaan (pendapat) umatku
adalah rahmat.
Atsar riwayat Baihaqi, menyebutkan Khalifah
Umar bin Abdul Azis berkata :
Saya tidak senang bila para sahabat Nabi
tidak berselisih pendapat, seandainya mereka tidak berselisih (berbeda)
pendapat, niscaya tidak ada ruksyah (keringanan) bagi kita.
4. Saling bertoleransi terhadap perbedaan
pendapat masalah furu yang ijtihadi.
5. Tidak ada toleransi pada perbedaan
pendapat yang nyeleneh pada masalah ushul (akidah) atau terhadap masalah yang
dalilnya sudah qathi (pasti) dan sharih (jelas).
6. Tidak memaksakan pendapat kepada orang
lain.
7. Tidak memastikan dan tidak menolak
mentah-mentah dalam masalah-masalah yang ijtihadi.
8. Bersikap moderat (pertengahan), tidak
ekstrim berlebih-lebihan.
Jauhkanlah diri kamu dari berlebih-lebihan
dalam agama karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya disebabkan karena
berlebih-lebihan dalam agama. (HR Ahmad, Nasai, Ibnu
Majah, Hakim, Ibnu Khuzaimah, Ibnu hibban)
9. Bersikap obyektif dan menelaah perbedaan
pendapat diantara para ulama.
10. Menahan diri dari menyerang kelompok yang
berbeda pendapat dalam masalah khilafiah dari : memvonis sesat, fasik, zindiq,
mubtadi (pelaku bidah) atau mengkafirkan.
11. Lebih memprioritaskan masalah yang lebih
utama yang dihadapi umat daripada sekedar berkutat pada masalah ikhtilaf,
seperti :
a. Ketinggalan science dan teknologi umat
islam dibanding barat yang non muslim.
b. Kemiskinan dan kebodohan umat.
c. Kezaliman dan kesewenang-wenangang politik
d. Perang pemikiran (ghazwul fikri) yang
menarik umat kearah materialistis, sekuleristis, hedonis.
e. Degradasi moral dan spiritual.
f. Zionisme dan Kolonialisme negeri negei
Islam.
12. Menjauhi taqlid buta dan fanatisme
a. Mewajibkan taqlid pada salah satu mazhab
atau kelompok tertentu.
b. Meneriakkan selogan bebas mazhab / tidak
ber mazhab (dari empat mazhab yang sudah ada) tapi menjadikan imam yang lain
sebagai mazhab ke lima.
c. Melarang taqlid pada ulama-ulama masa lalu
tapi ber taqlid penuh pada ulama masa sekarang.
d. Merasa kelompoknya paling benar, paling
super mendekati makshum yang bebas dari kesalahan.
e. Berperasangka baik kepada orang lain.
f. Adanya kemungkinan pluraritas kebenaran.
13. Tidak menyakiti orang yang berbeda
pendapat.
14. Berdialog dengan cara yang baik dan
ilmiah.
15. Menjauhi perdebatan sengit.
XV. Fikih Kotemporer
DR. Yusuf Qaradhawi, seorang ulama suni
kotemporer, hufadz (hafal Al-Quran), dikenal moderat, matang dalam fiqih dan
berwawasan luas, beliau pernah mendapat gelar The Man of The Year dari
pemerintah Uni Emirat Arab dalam bukunya Kebangkitan Gerakan Islam Dari Masa
Transisi Menuju Kematangan menuliskan pemikirannya yang sangat menarik, penting
dan perlu diketahui untuk menambah kematangan kita dalam memahami khazanah dan
fenomena pemahaman beragama dalam masa kotemporer sekarang ini yaitu point-point
menuju kematangan kebangkitan Islam yaitu :
1. Dari formalitas menuju hakikat.
Aspek lahir syariat : shalat, puasa, zakat
haji, hafal ayat dan teks hadits, hafal teori-teori theologi : sifat 20, asmaul
husna, dsb itu semua adalah aspek formal yang penting, tapi jauh lebih penting
adalah mengamalkan aspek hakikatnya, yaitu : menghambakan diri kepada Allah,
tulus menolong sesama, rendah hati, menjauhi rasa sombong-tinggi hati.
2. Dari Simbol menuju substansi.
Memanjangkan jenggot, memakai baju gamis,
memakai jilbab, memakai peci, memendekkan celana diatas mata kaki, membawa kayu
siwak, dsb itu semua adalah simbol yang penting, tapi jauh lebih penting adalah
memegangi substansinya yaitu : tauhid dalam akidah, ikhlas dalam ibadah, tulus
menolong sesama, amanat dalam muamalah, adil dalam memutuskan, kasih sayang
dalam pergaulan, berperasaan dalam etika, dsb.
3. Dari pembicaraan menuju amal
Ceramah, wejangan, obrolan itu adalah sebatas
pembicaraan maka mengamalkannya itu jauh lebih penting.
4. Dari polemik-perdebatan menuju berlomba
dalam kebaikan.
Diskusi, seminar, adu argumentasi, beradu
dalil, mengunggulkan pendapat sendiri, melemahkan pendapat orang lain, itu
semua termasuk polemik maka berlomba dalam kebaikan amal (fastabiqul khoirot) :
mengamalkan ilmu yang sudah diketahui, membangun sarana pendidikan,
menyantuni fakir-miskin, ber infaq untuk yayasan yayasan amal, riset penelitian
ilmiah, itu semua jauh lebih penting.
5. Dari sentimentil menuju ilmiah
Mengedepankan aspek bangsa, ras, suku,
golongan, kelompok, mazhab itu adalah aspek sentimen, maka mengutamakan
kebenaran, dalil dan argumen itu adalah sikap ilmiah.
6. Dari emosional menuju rasional
Memusuhi kelompok yang berbeda, bersikap
agresif-ofensif menyerang, itu adalah sikap emosional, maka menerima kebenaran
dari kelompok lain dan
7. Dari ekstrim menuju moderat
Ciri sikap ekstrim berlebihan :
a. Tidak mengakui pendapat lain.
b. Memaksakan pendapat.
c. Keras bukan pada tempatnya (pada masalah
furu yang ijtihadi).
d. Kasar, menyakiti.
e. Buruk sangka.
f. Memvonis orang lain sesat, mubtadi, fasik,
kafir.
g. Liberalis.
h. Literalis.
i. Suka men-generalisir, tanpa memilih dan
memilah.
Ciri-ciri sikap moderat adalah pertengahan :
a. Antara mengikuti mazhab dan non mazhab
(memilih pendapat yang terbaik).
b. Antara pengikut tasawuf dan yang menentang
tasawuf.
c. Antara rasionalis dan literalis.
d. Antara yang mengabaikan politik dan yang
semata mata berkutat dalam politik.
e. Antara yang terburu-buru memertik buah
sebelum matang dan yang terlalu lamban memetik buah hingga dipetik orang lain.
f. Antara kelompok idealis yang tidak melihat
realita dan kelompok realis yang tidak percaya akan ide ide.
8. Dari menyulitkan menuju kemudahan.
Tidak mau mengambil ruksyah, mudah
mengharamkan, memperluas konsep bidah dhalalah yaitu berpendapat seolah semua
perkara baru yang tidak ada di jaman Nabi adalah bidah dhalalah, sehingga seolah-olah
hidup sekarang ini adalah penuh dengan sekumpulan larangan, itu semua
adalah pandangan yang menyulitkan.
Padahal Allah berfirman :
Dia (Allah) tidak menghendaki adanya
kesulitan bagimu. (QS Al Baqarah : 185).
Dia tidak menjadikan kesukaran dalam agama
atas diri kalian. (QS Al Hajj : 78).
Hadits Nabi :
Agama yang disukai Allah adalah agama yang
mudah. (HR Bukhari, Ahmad, Thabrani)
Sesungguhnya Allah menyukai kalau ruksyah
(keringanan)-Nya diambil, sebagaimana Dia suka dipenuhi azimah (ketentuan hukum
asal bila tidak ada uzur) Nya. (HR Ibnu Hibban, para
pentaqiq tidak ada yang mendhaifkannya)
9. Dari jumud menuju ijtihad.
Hanya memegangi makna literal teks dalil yang
masih dzanni, tidak mau mempertimbangkan maqashid syariah, illat hukum, kondisi
sosial dan perkembangan jaman dan sikap taqlid kepada pendapat ulama tertentu
menyebabkan sikap jumud (beku), maka diperlukan sarana yang mecairkannya demi
kemaslahatan umat yaitu menggalakkan kembali api ijtihad.
10. Dari taklid menuju ittiba.
Sikap taklid adalah mengikuti pendapat orang
lain tanpa mengetahui argumen-argumennya, sedangkan ittiba adalah mengetahui
argumen-argumen para imam dan memilih mana yang paling baik.
11. Dari fanatisme menuju toleransi.
Ciri sikap fanatik :
a. Menganggap dirinya paling benar.
b. Menganggap semua yang lain pasti salah.
c. Keras pada masalah furu yang ijtihadi
d. Tidak mau meninggalkan perkara yang sunnah
untuk menjaga solidaritas.
e. Tidak mau menerima pendapat lain yang
lebih kuat.
Ciri sikap toleran :
a. Tidak merasa yang paling benar.
b. Mau menerima kemungkinan kebenaran ada
pada orang lain.
c. Tidak bersikap keras pada masalah furu
yang ijtihadi.
d. Mau meninggalkan perkara sunnah untuk
menjaga solidaritas persamaan.
e. Mau menerima pendapat orang lain yang
ternyata lebih kuat.
12. Dari eksklusifisme menuju inklusifisme.
13. Dari keberingasan menuju kasih sayang.
14. Dari perpecahan menuju persatuan.
15. Dari perselisihan menuju solidaritas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar